Dengan tuduhan kobarkan kekerasan, Iran hukum mati seorang jurnalis

Selasa, 08 Desember 2020 | 23:55 WIB Sumber: Reuters
Dengan tuduhan kobarkan kekerasan, Iran hukum mati seorang jurnalis

ILUSTRASI.


KONTAN.CO.ID - DUBAI. Iran mengatakan, Mahkamah Agung telah memperkuat putusan hukuman mati terhadap seorang jurnalis yang ditangkap tahun lalu dalam apa yang Teheran sebut sebagai operasi intelijen, setelah bertahun-tahun mengasingkan diri di Prancis.

Ruhollah Zam, yang akun media sosialnya Amadnews memiliki lebih dari 1 juta pengikut, dijatuhi hukuman mati karena mengobarkan kekerasan selama protes anti-pemerintah pada 2017.

"Ya, Mahkamah Agung telah menguatkan hukuman yang dijatuhkan oleh Pengadilan Revolusi dalam kasus ini," kata juru bicara Kementerian Kehakiman Gholamhossein Esmaili pada konferensi pers yang disiarkan langsung di situs peradilan, Selasa (8/12), seperti dikutip Reuters.

Zam, putra seorang ulama Syiah pro-reformasi, melarikan diri dari Iran dan mendapatkan suaka di Prancis.

Baca Juga: Iran sebut ilmuwan nuklirnya dibunuh dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan

Pada Oktober 2019, Garda Revolusi Iran mengatakan, telah "menjebak" dan menangkap Zam dalam "operasi kompleks yang menggunakan tipuan intelijen". Tidak disebutkan di mana operasi itu dilakukan.

Para pejabat Iran menuduh musuh bebuyutan Amerika Serikat (AS) serta Arab Saudi dan anti-pemerintah yang tinggal di pengasingan mengobarkan kerusuhan, yang dimulai pada akhir 2017 sebagai protes tentang kesulitan ekonomi dan menyebar ke seluruh negeri.

Menurut para pejabat Iran, 21 orang tewas selama kerusuhan tersebut dan ribuan lainnya ditangkap. Kerusuhan itu termasuk yang terburuk yang pernah terjadi di Iran dalam beberapa dekade, dan diikuti protes yang bahkan lebih mematikan tahun lalu terhadap kenaikan harga bahan bakar.

Selanjutnya: Pemimpin Tertinggi Iran Khamenei serahkan kekuasaan kepada putranya, benarkah?

 

Editor: S.S. Kurniawan

Terbaru