Dituduh Membeli Senjata dari Iran dan Korut, Rusia: Coba Buktikan!

Jumat, 09 September 2022 | 10:18 WIB Sumber: Reuters
Dituduh Membeli Senjata dari Iran dan Korut, Rusia: Coba Buktikan!

ILUSTRASI. Duta Besar Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia berbicara selama pertemuan Dewan Keamanan PBB, di Markas Besar PBB di New York City, New York, AS, 18 Maret 2022. REUTERS/Brendan McDermid

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Melalui utusannya di PBB, Rusia mendesak Amerika Serikat (AS) dan Inggris untuk memberikan bukti terkait tuduhan bahwa Rusia membeli persenjataan dari Iran dan Korea Utara.

Di hadapan 15 anggota Dewan Keamanan PBB, Duta Besar Rusia Vassily Nebenzia pada hari Kamis (8/9) menyebut dua negara rivalnya itu telah menyebarkan informasi yang salah.

"Saya ingin meminta mereka sekarang untuk memberi kami bukti atau mengakui bahwa mereka menyebarkan informasi yang tidak dapat diandalkan," ungkap Nebenzia, seperti dikutip Reuters.

Komentar Nebenzia ini keluar setelah pemerintah AS menuduh Iran telah memasok drone tempur ke Rusia selama perang di Ukraina. Tuduhan itu pun telah dibantah Iran.

Baca Juga: Vladimir Putin Hadiri Latihan Militer Vostok 2022 yang Libatkan China

Awal pekan ini, intelijen AS juga menyebut bahwa Rusia sedang dalam proses untuk mendatangkan roket dan peluru artileri dalam jumlah besar dari Korea Utara.

Tuduhan itu juga disampaikan Duta Besar Inggris untuk PBB Barbara Woodward di hadapan forum.

"Rusia beralih ke Iran untuk memasok UAV (kendaraan udara tak berawak) dan melakukan pelanggaran yang jelas terhadap sanksi PBB dengan memasok amunisi dari Korea Utara," kata Woodward.

Baca Juga: Rusia Diduga Mulai Memasok Amunisi Artileri dari Korea Utara

Sementara itu, Duta Besar AS untuk PBB Richard Mills juga menentang tuduhan Rusia yang menyebut bahwa AS dan negara-negara Barat sedang berusaha meningkatkan ketegagan dan memperpanjang konflik di Ukraina.

Menurut Mills, klaim itu dilempar untuk menutupi banyak kesalahan Rusia.

"Klaim Rusia bahwa AS dan Barat meningkatkan dan memperpanjang konflik ini adalah salah. Itu adalah upaya untuk mengalihkan perhatian dari peran mereka sebagai satu-satunya agresor dalam perang," ungkap Mills.

Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

Terbaru