Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) bergerak stabil di dekat level tertinggi dua pekan pada Jumat (6/2/2026) dan berada di jalur mencatat kinerja mingguan terkuat sejak November.
Melansir Reuters, Indeks dolar yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, tercatat di level 97,961, mendekati posisi tertinggi sejak 23 Januari.
Secara mingguan, indeks dolar berpeluang naik sekitar 1%, menjadi kenaikan mingguan paling tajam sejak pertengahan November.
Baca Juga: Harga Minyak Lanjut Turun Jelang Perundingan AS–Iran Jumat (6/2): WTI di US$62,47
Penguatan dolar terjadi di tengah gejolak pasar saham global, terutama akibat kekhawatiran investor terhadap besarnya belanja kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Sementara itu, yen Jepang menguat tipis menjelang pemilihan umum nasional yang akan digelar akhir pekan ini.
Dolar AS menguat sejak Presiden Donald Trump pekan lalu mencalonkan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve berikutnya.
Pasar menilai Warsh cenderung tidak agresif mendorong pemangkasan suku bunga, sehingga meredakan kekhawatiran terkait independensi bank sentral AS.
Baca Juga: Bursa Asia Terkoreksi Jumat (6/2) Pagi: Saham, Perak, dan Bitcoin Terpukul Keras
Aksi jual tajam saham-saham teknologi sepanjang pekan ini dipicu kekhawatiran investor atas masifnya investasi di sektor AI serta dampak berantai dari perkembangan teknologi AI yang sangat cepat dan berpotensi mengubah banyak sektor industri.
Sentimen penghindaran risiko (risk-off) tersebut menopang dolar, meski imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) justru melemah.
Pelemahan yield terjadi setelah data ekonomi AS mengindikasikan pasar tenaga kerja yang lebih lemah dari perkiraan, menjelang rilis laporan non-farm payrolls Januari pekan depan.
Ekonom ING menilai perlambatan perekrutan tenaga kerja mengindikasikan The Fed mungkin terlalu dini dalam meremehkan risiko terhadap mandat ketenagakerjaannya pada pertemuan kebijakan Januari lalu.
Baca Juga: Korsel Tambah Amunisi Devisa, Terbitkan Obligasi Valas US$3 Miliar
“Revisi penurunan besar pada data payroll pekan depan akan meningkatkan tekanan bagi The Fed untuk kembali memangkas suku bunga,” tulis ING dalam catatannya.
Saat ini, pelaku pasar masih memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga sepanjang tahun ini, dengan peluang pemangkasan pada Juni yang mulai meningkat.
Di Eropa, euro berada di level US$1,1784 setelah Bank Sentral Eropa (ECB) mempertahankan suku bunga acuannya pada Kamis dan mengecilkan dampak pergerakan dolar terhadap kebijakan ke depan.
Pound sterling masih tertekan dan diperdagangkan di US$1,3520 setelah merosot hampir 1% pada sesi sebelumnya.
Bank of England mempertahankan suku bunga, namun dengan hasil pemungutan suara yang tipis, yakni 5-4.
Bank sentral Inggris menyatakan biaya pinjaman berpotensi turun jika penurunan inflasi yang diperkirakan benar-benar terjadi.
Di Asia, yen Jepang menguat tipis ke level 156,74 per dolar AS menjelang pemilu nasional. Pasar memperkirakan peluang kemenangan Perdana Menteri Sanae Takaichi cukup besar.
Pemilu tersebut membuat investor waspada karena kekhawatiran fiskal telah memicu aksi jual tajam di pasar mata uang dan obligasi Jepang dalam beberapa waktu terakhir. Pelemahan lanjutan yen dikhawatirkan dapat berdampak secara global.
Baca Juga: Rekor Burj Khalifa Terancam! Arab Saudi Siapkan Menara Setinggi 2 KM di Riyadh
“Jika kemenangan Takaichi sangat besar, hal itu akan mengurangi hambatan jangka pendek terhadap agenda kebijakan fiskalnya, termasuk rencana penurunan pajak konsumsi,” ujar Samara Hammoud, ahli strategi mata uang di CBA.
“Namun, hingga kini belum jelas bagaimana Takaichi akan membiayai kebijakan fiskal yang ekspansif. Kekhawatiran baru terkait lonjakan utang pemerintah Jepang akan menekan obligasi pemerintah dan yen,” tambahnya.
Di pasar komoditas, harga emas dan perak mengalami volatilitas tinggi akibat aksi beli berbasis leverage dan arus spekulatif.
Harga perak turun 3% pada perdagangan awal dan berpotensi mencatat penurunan mingguan hingga 18%.
Sementara di pasar kripto, bitcoin bergerak fluktuatif setelah menyentuh level terendah sejak Oktober 2024.
Bitcoin terakhir diperdagangkan di US$63.273, setelah sebelumnya sempat jatuh hingga US$60.017.













