kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.753   44,00   0,25%
  • IDX 6.525   7,36   0,11%
  • KOMPAS100 852   3,39   0,40%
  • LQ45 644   2,00   0,31%
  • ISSI 229   -0,13   -0,06%
  • IDX30 360   1,47   0,41%
  • IDXHIDIV20 443   4,53   1,03%
  • IDX80 97   0,33   0,34%
  • IDXV30 124   2,23   1,83%
  • IDXQ30 115   0,70   0,62%

Dolar AS Bertahan di Level Tertinggi 2 Minggu, Yen Tertekan Dekati 160


Senin, 31 Agustus 2026 / 15:10 WIB
Dolar AS Bertahan di Level Tertinggi 2 Minggu, Yen Tertekan Dekati 160
ILUSTRASI. Inflasi Amerika Serikat - Dolar AS (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) bertahan di dekat level tertinggi dalam dua pekan pada Senin (31/8/2026).

Penguatan dolar didorong meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) setelah pernyataan hawkish Ketua The Fed Kevin Warsh.

Di sisi lain, yen Jepang masih tertekan di sekitar level 160 per dolar AS, yang menjadi perhatian pasar karena dapat meningkatkan risiko intervensi pemerintah Jepang.

Baca Juga: Harga Minyak Naik 2%, Konflik AS-Iran Kembali Memanas di Selat Hormuz

Melansir Reuters, indeks dolar AS yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama turun tipis ke level 99,6.

Pada perdagangan Jumat (28/8), indeks tersebut melonjak 0,6% ke level tertinggi sejak 17 Agustus 2026.

Warsh pada Jumat lalu mengatakan The Fed masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan apabila para pembuat kebijakan belum memperoleh keyakinan bahwa inflasi bergerak menuju target 2%.

Pernyataan tersebut menjadi sinyal paling jelas dari Warsh sejauh ini bahwa pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut mungkin diperlukan untuk meredam tekanan inflasi.

Komentar tersebut mendorong pasar meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September. Probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan bulan depan kini mencapai 57%.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun yang sensitif terhadap kebijakan suku bunga juga bertahan di sekitar level tertinggi lebih dari satu bulan, yakni 4,33%.

Baca Juga: Optimisme Pebisnis Korea Selatan Meningkat, Indeks Investasi Peralatan Melesat

"Pertahanan Warsh terhadap target inflasi telah mengurangi hambatan utama terhadap dolar AS dan mengalihkan fokus kembali pada fundamental ekonomi," ujar FX Strategist OCBC Sim Moh Siong.

Menurutnya, pernyataan tersebut turut membantu memulihkan kredibilitas The Fed serta meredakan kekhawatiran mengenai pelemahan nilai mata uang.

Pasar Menanti Data Ekonomi AS

Investor kini mengalihkan perhatian terhadap sejumlah data ekonomi AS yang akan dirilis pekan ini.

Salah satu yang paling dinantikan adalah laporan nonfarm payrolls pada Jumat (4/9), disusul data inflasi konsumen pada pekan berikutnya.

Data tersebut akan menjadi pertimbangan penting bagi pasar dalam memperkirakan arah kebijakan The Fed menjelang pertemuan September.

Sementara itu, euro menguat sekitar 0,1% menjadi US$ 1,1590. Poundsterling relatif stabil di US$ 1,3545.

Baca Juga: AS Gempur Peluncur Roket Iran, Teheran Balas Tembak Rudal ke Yordania

Kedua mata uang tersebut masih berada di jalur untuk mencatat penguatan bulanan kedua secara berturut-turut.

Permintaan terhadap dolar AS juga mendapat dukungan dari meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk serta kenaikan harga minyak.

Pasukan AS menyerang Pulau Larak di Iran pada Minggu (30/8), yang menjadi serangan pertama AS terhadap Iran sejak akhir Juli. Presiden AS Donald Trump juga mengatakan pusat energi Iran di Pulau Kharg tengah diserang.

Yen Mendekati Level 160

Pergerakan yen menjadi perhatian pasar setelah mata uang Jepang tersebut kembali melemah melewati level 160 per dolar pada Jumat lalu.

Pada Senin, yen sedikit menguat ke level 159,78 per dolar. Namun, mata uang tersebut masih berada di bawah tekanan setelah sebelumnya kehilangan sebagian besar penguatan yang diperoleh pasca-intervensi pemerintah Jepang pada Juli.

Level 160 per dolar dipandang penting karena pelemahan yen hingga level tersebut dapat meningkatkan risiko intervensi kembali oleh otoritas Jepang.

Baca Juga: Barclays Prediksi The Fed Naikkan Suku Bunga Dua Kali Lagi Tahun Ini

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pergerakan yen belakangan ini masih "cukup terkendali". Ia juga menyatakan optimistis Gubernur Bank of Japan (BoJ) Kazuo Ueda akan mengambil kebijakan yang tepat terkait arah suku bunga.

"Secara historis, intervensi hanya bertahan ketika fundamental bergerak ke arah yang sama," ujar Senior Economist Asia UBP Carlos Casanova.

Menurutnya, yen masih menghadapi tekanan akibat kesenjangan suku bunga yang lebar, suku bunga riil negatif, serta laju pengetatan kebijakan BoJ yang relatif hati-hati.

Di sisi lain, yuan China menguat ke level 6,72 per dolar setelah data menunjukkan aktivitas manufaktur China membaik pada Agustus, meski masih berada di zona kontraksi.

Dolar Selandia Baru juga relatif stabil di sekitar level US$ 0,5918, mendekati level tertinggi dalam tiga bulan. Pasar bersiap menghadapi potensi kenaikan suku bunga di Selandia Baru pada pekan ini.

Sementara itu, dolar Australia menguat sekitar 0,1% menjadi US$ 0,7165.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×