kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.673.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 17.892   34,00   0,19%
  • IDX 6.101   -15,36   -0,25%
  • KOMPAS100 796   1,04   0,13%
  • LQ45 598   -0,77   -0,13%
  • ISSI 212   -1,29   -0,61%
  • IDX30 338   -0,72   -0,21%
  • IDXHIDIV20 413   -2,81   -0,68%
  • IDX80 90   0,11   0,12%
  • IDXV30 111   -0,72   -0,65%
  • IDXQ30 108   -0,25   -0,23%

UPDATE-Dolar AS Sentuh Level Tertinggi Setahun, Yen Dekati Titik Terlemah 40 Tahun


Selasa, 23 Juni 2026 / 19:22 WIB
UPDATE-Dolar AS Sentuh Level Tertinggi Setahun, Yen Dekati Titik Terlemah 40 Tahun
ILUSTRASI. Nilai tukar rupiah terendah terhadap dolar AS (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) menguat ke level tertinggi dalam lebih dari satu tahun pada perdagangan Selasa (23/6/2026), didorong meningkatnya ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga tahun ini.

Di sisi lain, yen Jepang masih berada di dekat level terlemahnya dalam hampir empat dekade.

Baca Juga: Manchester United Amankan Lahan untuk Stadion Baru, Kapasitas 100.000 Tempat Duduk

Melansir Reuters, Indeks dolar AS (US Dollar Index/DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, naik ke level 101,25. Posisi tersebut menjadi yang tertinggi sejak Mei 2025.

Penguatan dolar terjadi seiring meningkatnya keyakinan pasar terhadap kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat dari The Fed.

Berdasarkan kontrak berjangka Fed Funds, pasar kini memperkirakan peluang lebih dari 85% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September mendatang.

Sejumlah lembaga keuangan besar seperti Bank of America (BofA) Global Research dan Deutsche Bank juga telah merevisi proyeksinya.

Keduanya tidak lagi memperkirakan suku bunga tetap sepanjang tahun dan kini memperkirakan The Fed akan kembali menaikkan suku bunga, didukung ketahanan ekonomi AS yang masih kuat.

"Saat ini dolar mencerminkan ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi dan memperoleh dukungan dari kondisi tersebut," ujar Strategis Valas Handelsbanken, Tommy von Bromsen.

Menurutnya, dolar juga mendapat sokongan dari ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah yang belum sepenuhnya mereda meskipun terdapat kemajuan dalam perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran.

Baca Juga: Inggris Kaji Aturan Baru, Media Sosial Wajib Utamakan Sumber Berita Terpercaya

Euro dan Pound Sterling Melemah

Penguatan dolar menekan sejumlah mata uang utama lainnya. Euro turun ke US$ 1,1395, level terendah sejak Agustus 2025.

Pelemahan euro terjadi setelah Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde meredam kekhawatiran terhadap efek lanjutan inflasi dan mengindikasikan pendekatan kebijakan yang lebih seimbang setelah kenaikan suku bunga awal bulan ini.

Sementara itu, pound sterling Inggris melemah 0,2% menjadi US$ 1,3223.

Mata uang Inggris sempat menguat sehari sebelumnya setelah pengunduran diri Perdana Menteri Keir Starmer. Namun pasar masih mencermati proses pergantian kepemimpinan di Inggris.

Analis valas Commerzbank Michael Pfister menilai, ketidakpastian mengenai suksesi kepemimpinan menjadi salah satu faktor yang sempat membebani pound sterling.

Di kelompok mata uang berbasis risiko, dolar Australia merosot 0,7% ke US$ 0,6951, level terendah sejak awal April. Sementara dolar Selandia Baru turun 0,4% menjadi US$ 0,5689.

Baca Juga: 5.300 Orang Masih Terjebak di Pusat Penipuan Siber Myanmar Dekat Perbatasan Thailand

Yen Dekati Level Terlemah 40 Tahun

Yen Jepang diperdagangkan di level 161,41 per dolar AS setelah sempat menyentuh 161,93 pada Senin malam. Jika menembus level 161,96, yen akan berada pada posisi terlemah sejak 1986.

Kondisi tersebut meningkatkan spekulasi bahwa otoritas Jepang akan kembali melakukan intervensi di pasar valuta asing guna menahan pelemahan mata uangnya.

"Kita dapat mengharapkan volatilitas meningkat ketika yen berada di dekat level ini karena pasar memperkirakan Jepang akan memberi sinyal intervensi atau bahkan melakukan intervensi langsung," kata von Bromsen.

Kekhawatiran terhadap pelemahan yen juga mendorong Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama menggelar pertemuan daring dengan Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Senin malam.

Baca Juga: AS Longgarkan Sanksi Iran 60 Hari, Trump Peringatkan Teheran Patuhi Kesepakatan

Menurut sumber Reuters, pembahasan keduanya mencakup respons kebijakan terhadap pelemahan yen yang bersejarah, termasuk kemungkinan intervensi di pasar valuta asing.

Meski demikian, hingga kini otoritas Jepang belum memberikan sinyal yang jelas terkait langkah yang akan diambil.

Sikap tersebut membuat pelaku pasar terus berspekulasi mengenai kapan dan bagaimana pemerintah Jepang akan bertindak untuk menahan tekanan terhadap yen.




TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value How to Manage Your Gen Z Salespeople?

[X]
×