Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) mengawali perdagangan tahun 2026 dengan kinerja lemah pada Jumat (2/1/2026), setelah sepanjang tahun lalu tertekan terhadap mayoritas mata uang dunia.
Sementara itu, yen Jepang bergerak stabil di dekat level terendah 10 bulan, seiring pelaku pasar menanti rilis data ekonomi untuk membaca arah kebijakan suku bunga ke depan.
Menyempitnya selisih suku bunga antara AS dan negara-negara lain membayangi pasar valuta asing.
Kondisi ini mendorong sebagian besar mata uang menguat signifikan terhadap dolar sepanjang 2025, dengan yen menjadi pengecualian.
Baca Juga: Logam Mulia Mengawali Tahun Baru Menguat Usai Catat Rekor Sepanjang 2025
Melansir Reuters, Euro tercatat stabil di level US$1,1752 pada awal perdagangan Asia, setelah melonjak 13,5% sepanjang 2025.
Sementara pound sterling diperdagangkan di US$1,3474, menyusul kenaikan tahunan sebesar 7,7% tahun lalu. Keduanya mencatat penguatan tahunan terbesar sejak 2017.
Yen Jepang terakhir berada di posisi 156,74 per dolar AS. Sepanjang 2025, yen hanya menguat kurang dari 1% terhadap dolar dan masih bergerak dekat level terendah 10 bulan di 157,90 yang sempat tercapai pada November lalu, memicu kekhawatiran potensi intervensi dari otoritas Tokyo.
Peringatan verbal yang cukup keras dari pemerintah Jepang sepanjang Desember berhasil mendorong yen menjauh dari zona intervensi, meski kekhawatiran tersebut belum sepenuhnya hilang.
Dengan pasar Jepang dan China tutup, volume transaksi diperkirakan tipis dan pergerakan mata uang cenderung terbatas selama sesi Asia.
Baca Juga: Liga Inggris 2026: Paceklik Gol Awali Tahun Baru, City Tertahan
Chief Investment Strategist Pinnacle Investment Management Anthony Doyle menilai, perekonomian global memasuki 2026 dengan momentum yang relatif solid dan risiko resesi masih rendah.
“Di luar Amerika Serikat, dorongan pemangkasan suku bunga bank sentral mulai memudar. Ini bukan kelemahan, justru mengurangi kejutan kebijakan dan pergerakan satu arah di pasar, serta meningkatkan pentingnya seleksi antarwilayah, faktor, dan kelas aset,” ujar Doyle.
Indeks dolar, yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama lainnya, berada di level 98,243. Sepanjang 2025, indeks ini anjlok 9,4%, menjadi penurunan tahunan terdalam dalam delapan tahun terakhir.
Tekanan tersebut dipicu oleh pemangkasan suku bunga, kebijakan perdagangan yang tidak konsisten, serta kekhawatiran atas independensi The Federal Reserve di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.
Baca Juga: Sphere, Pemasok SpaceX, Beli 10% Proyek Nikel Indonesia Milik Nickel Industries
Sejumlah data ekonomi penting AS, termasuk laporan ketenagakerjaan nonfarm payrolls dan klaim pengangguran, dijadwalkan rilis pekan depan.
Data ini akan menjadi petunjuk penting mengenai kondisi pasar tenaga kerja dan arah suku bunga AS sepanjang tahun ini.
Perhatian pasar di awal tahun juga tertuju pada sosok yang akan dipilih Presiden Donald Trump sebagai Ketua The Fed berikutnya, mengingat masa jabatan Jerome Powell berakhir pada Mei mendatang.
Investor memperkirakan kandidat pilihan Trump cenderung lebih dovish, sejalan dengan kritik Trump sebelumnya terhadap The Fed dan Powell yang dinilai terlalu lambat memangkas suku bunga.
Saat ini, pelaku pasar memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga AS sepanjang 2026, lebih banyak dibandingkan proyeksi satu kali pemangkasan dari The Fed yang masih terbelah pandangannya.
Baca Juga: Taiwan Tegang, Roket China Jatuh di Zona Lautnya
“Kami memperkirakan kekhawatiran terkait independensi bank sentral akan berlanjut hingga 2026. Pergantian kepemimpinan The Fed menjadi salah satu faktor yang membuat risiko proyeksi suku bunga kami condong ke arah dovish,” tulis analis Goldman Sachs.
Di sisi lain, dolar Australia dan dolar Selandia Baru mengawali tahun dengan sentimen positif.
Dolar Australia menguat 0,1% ke level US$0,66805, setelah mencatat kenaikan hampir 8% sepanjang 2025, menjadi kinerja tahunan terbaik sejak 2020.
Sementara itu, dolar Selandia Baru (kiwi) berhasil memutus tren penurunan tiga tahun berturut-turut dengan kenaikan hampir 3% tahun lalu. Pada Jumat, kiwi diperdagangkan relatif stabil di level US$0,5755.













