Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Dolar Amerika Serikat (AS) bertahan di dekat level tertingginya dalam sepekan pada perdagangan Asia, Jumat (11/9/2026), di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi di Timur Tengah.
Kondisi tersebut mendorong kenaikan harga minyak sekaligus imbal hasil (yield) obligasi, sehingga meningkatkan daya tarik dolar AS sebagai aset safe haven di tengah meningkatnya penghindaran risiko di pasar keuangan.
Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama, bergerak datar di level 99,084. Pada perdagangan sebelumnya, indeks tersebut sempat menguat ke level tertinggi sejak 7 September.
Penguatan dolar AS terjadi setelah data menunjukkan harga produsen (producer price index/PPI) AS meningkat 0,4% pada Agustus. Kenaikan tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar, seiring pemulihan harga energi sepanjang bulan tersebut.
Baca Juga: Facebook, TikTok hingga YouTube Digugat di Portugal karena Fitur Adiktif
"Permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven meningkat karena arus penghindaran risiko, didukung oleh kenaikan harga energi yang telah meningkatkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pekan depan menjadi 70%," kata Tony Sycamore, analis pasar di IG Sydney.
Harga minyak masih di atas US$ 100 per barel
Harga energi mengalami penurunan setelah mencatat kenaikan selama lima hari berturut-turut. Harga minyak mentah Brent turun 0,6% menjadi US$ 106,99 per barel dalam perdagangan Asia.
Meski demikian, kedua acuan harga minyak utama masih bertahan di atas level US$ 100 per barel yang sempat dicapai pada awal pekan ini.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bahkan menembus level US$ 100 per barel pada Kamis untuk pertama kalinya sejak 21 Mei. Lonjakan tersebut terjadi setelah kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran menguasai kota pelabuhan Mocha di Yaman dan bergerak menyusuri pesisir Laut Merah menuju sejumlah pulau strategis.
Perkembangan tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap keamanan jalur pelayaran dan potensi gangguan pasokan energi global.
Yen menguat, pasar perkirakan BOJ naikkan suku bunga
Terhadap yen Jepang, dolar AS melemah 0,2% menjadi 154,105 yen. Dengan pergerakan tersebut, dolar AS berada di jalur penurunan selama dua pekan berturut-turut.
Sementara itu, euro melemah 0,2% menjadi 178,99 yen setelah Bank Sentral Eropa (ECB) menaikkan suku bunga pada Kamis, yang menjadi kenaikan kedua sepanjang tahun ini.
Yen kembali menguat setelah data yang dirilis Jumat menunjukkan inflasi grosir Jepang meningkat 7,6% secara tahunan pada Agustus. Data tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Bank of Japan (BOJ) akan menaikkan suku bunga pada bulan ini.
BOJ diperkirakan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pekan depan. Empat sumber yang mengetahui pemikiran bank sentral Jepang mengatakan kepada Reuters bahwa BOJ juga berpotensi memberikan sinyal pengetatan kebijakan moneter yang lebih cepat apabila tekanan harga meningkatkan risiko inflasi melampaui target.
Baca Juga: Ekonomi Inggris Tumbuh 0,4% pada Juli, Lampaui Ekspektasi Ekonom
Dolar Selandia Baru dan Australia ikut menguat
Dolar Selandia Baru atau kiwi menguat 0,5% menjadi US$ 0,5827 setelah mengalami aksi jual pada Kamis. Namun, mata uang tersebut masih berada di jalur penurunan selama tiga pekan berturut-turut.
Imbal hasil obligasi pemerintah Selandia Baru tenor 10 tahun naik 15,5 basis poin menjadi 5,06% pada Jumat. Kenaikan tersebut memperpanjang lonjakan biaya pinjaman terbesar dalam dua hari sejak aksi jual pada "Liberation Day" tahun lalu.
"Selandia Baru tampaknya terkena dampak lebih besar dibandingkan sebagian besar pasar lainnya dalam tahap terbaru aksi jual di pasar obligasi," kata Thomas Mathews, kepala pasar Asia Pasifik di Capital Economics Wellington.
Dolar Australia juga menguat 0,2% menjadi US$ 0,7167.
Di sisi lain, euro dan pound Inggris masing-masing bergerak stabil terhadap dolar AS di level US$ 1,1609 dan US$ 1,3503.
Tekanan terhadap The Fed meningkat
Pelaku pasar kini menantikan rilis data inflasi konsumen AS atau consumer price index (CPI) yang akan dirilis Jumat. Data tersebut menjadi salah satu indikator ekonomi utama terakhir yang akan tersedia sebelum Federal Reserve menggelar pertemuan kebijakan moneter pekan depan.
Kontrak berjangka suku bunga The Fed memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan berikutnya mencapai 71,1%. Pertemuan tersebut dijadwalkan berlangsung selama dua hari dan berakhir pada 16 September.
Baca Juga: Houthi Kuasai Pelabuhan Mocha, Ancaman Baru Mengintai Selat Bab el-Mandeb
Angka tersebut meningkat dibandingkan probabilitas 61,2% pada sesi perdagangan sebelumnya, berdasarkan alat FedWatch milik CME Group.
Pasar obligasi AS juga masih berada dalam kondisi tidak stabil setelah Departemen Keuangan AS meningkatkan ukuran program pembelian kembali obligasi jangka panjang hingga tiga kali lipat.
Indeks volatilitas obligasi atau MOVE naik ke level tertinggi dalam satu bulan. Sementara itu, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 1,5 basis poin menjadi 4,957%.
"Yield Treasury AS tenor 10 tahun berada sangat dekat dengan level 5%, karena pasar telah menilai kembali jalur kenaikan suku bunga The Fed, sementara premi jangka waktu secara tepat berada di sekitar level sebelum krisis keuangan global," tulis analis Barclays.
"Kami tetap berpandangan bahwa obligasi belum murah dan pemicu untuk terjadinya reli belum terlihat dalam waktu dekat," lanjut analis tersebut.
Di pasar aset kripto, harga Bitcoin turun 0,2% menjadi US$ 77.094,41. Sementara itu, Ethereum atau ether melemah 0,1% menjadi US$ 2.457,96.














