Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - HONG KONG. Nilai tukar dolar Amerika Serikat menguat tipis pada perdagangan Selasa seiring meningkatnya kehati-hatian investor akibat konflik di Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda mereda.
Sentimen pasar masih diliputi ketidakpastian meskipun Presiden AS Donald Trump menunda rencana serangan terhadap jaringan listrik Iran selama lima hari. Trump menyebut adanya pembicaraan yang “sangat baik dan produktif” antara AS dan Iran terkait penyelesaian konflik, namun pihak Iran membantah adanya negosiasi langsung.
Perbedaan pernyataan tersebut, ditambah eskalasi serangan terbaru, membuat pelaku pasar cenderung menahan risiko. Konflik ini juga berdampak besar pada pasokan energi global, dengan sekitar seperlima distribusi minyak dan gas alam cair dunia yang melewati Selat Hormuz terganggu.
Baca Juga: Bank Sentral Borong Emas Lagi, Sinyal Dedolarisasi Makin Kuat
Di pasar mata uang, poundsterling melemah 0,49% ke level US$ 1,3388 setelah sebelumnya sempat menguat hampir 1%. Euro juga turun 0,3% ke US$ 1,1583. Sementara itu, dolar Australia turun 0,6% ke US$ 0,6968, dan dolar Selandia Baru melemah 0,5% ke US$ 0,5832.
Yen Jepang juga tertekan di level 158,73 per dolar AS, setelah inflasi inti Jepang tercatat 1,6% pada Februari, berada di bawah target 2% yang ditetapkan oleh Bank of Japan untuk pertama kalinya dalam hampir empat tahun. Kondisi ini mempersulit langkah bank sentral dalam melanjutkan kenaikan suku bunga.
Harga minyak dunia kembali naik setelah sebelumnya anjlok lebih dari 10% pada Senin. Kenaikan ini dipicu kekhawatiran pasokan akibat konflik yang terus berlanjut, dengan harga Brent kembali menembus US$ 100 per barel.
Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan dolar terhadap sejumlah mata uang utama, naik 0,2% ke level 99,387 setelah sempat turun ke level terendah dua pekan sehari sebelumnya. Sepanjang bulan ini, indeks tersebut telah menguat sekitar 1,8% dan berada di jalur kenaikan bulanan terkuat sejak Oktober.
Penguatan dolar juga didukung oleh meningkatnya permintaan aset safe haven serta berkurangnya ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve tahun ini.
Analis menilai arah pasar ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan konflik. Selama belum ada tanda de-eskalasi yang jelas, dolar AS diperkirakan tetap didukung oleh sentimen kehati-hatian global.
Baca Juga: Terkuak, Ini Dia Penyebab Trump Batal Serang Infrastruktur Energi Iran
Di sisi lain, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun ke level 3,908% juga mencerminkan perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga, yang turut menopang penguatan dolar dalam jangka pendek.













