kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.843.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.957   -38,00   -0,22%
  • IDX 7.107   84,55   1,20%
  • KOMPAS100 978   11,34   1,17%
  • LQ45 722   8,69   1,22%
  • ISSI 249   4,23   1,73%
  • IDX30 393   5,52   1,42%
  • IDXHIDIV20 489   3,83   0,79%
  • IDX80 110   1,42   1,31%
  • IDXV30 134   2,21   1,67%
  • IDXQ30 127   1,16   0,92%

Bank Sentral Borong Emas Lagi, Sinyal Dedolarisasi Makin Kuat


Selasa, 24 Maret 2026 / 11:21 WIB
Bank Sentral Borong Emas Lagi, Sinyal Dedolarisasi Makin Kuat
ILUSTRASI. Harga emas (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - CANBERRA. Peran emas sebagai lindung nilai terhadap tren dedolarisasi dan meningkatnya risiko geopolitik diperkirakan akan mendorong lebih banyak bank sentral untuk kembali masuk ke pasar logam mulia tersebut pada tahun ini.

Menurut Shaokai Fan, Kepala Global Bank Sentral World Gold Council (WGC), dalam beberapa bulan terakhir sejumlah bank sentral dari negara seperti Guatemala, Indonesia, dan Malaysia mulai membeli emas, baik setelah lama tidak aktif maupun untuk pertama kalinya.

“Fenomena yang kami lihat dalam beberapa bulan terakhir adalah munculnya bank sentral baru atau yang sudah lama absen, kembali memasuki pasar emas,” ujar Fan. Ia menambahkan tren ini kemungkinan akan berlanjut hingga 2026.

Baca Juga: Terkuak, Ini Dia Penyebab Trump Batal Serang Infrastruktur Energi Iran

Selain itu, beberapa bank sentral juga dilaporkan membeli emas dari produsen skala kecil dalam negeri. Langkah ini bertujuan mendukung industri lokal sekaligus mencegah penjualan emas jatuh ke pihak-pihak yang tidak diinginkan.

Sepanjang bulan ini, harga emas tercatat turun lebih dari US$ 1.000 per troi ons menjadi sekitar US$ 4.340. Menurut Fan, penurunan tajam ini sebagian dipicu oleh aksi jual terkait margin call.

Sebelumnya, harga emas sempat mencapai rekor tertinggi mendekati US$ 5.600 per troi ons pada akhir Januari. Dalam episode penurunan harga pada Oktober lalu, bank sentral justru memanfaatkan momentum untuk menambah cadangan emas. Namun, untuk penurunan terbaru ini, masih terlalu dini untuk memastikan apakah pola serupa terjadi kembali.

WGC memperkirakan pembelian emas oleh bank sentral akan sedikit menurun menjadi sekitar 850 metrik ton pada tahun ini, dibandingkan 863 ton pada 2025. Meski demikian, angka tersebut masih tergolong tinggi dibandingkan periode sebelum 2022.

Fan menjelaskan harga emas yang tinggi dapat menahan minat pembelian baru, sekaligus meningkatkan porsi emas dalam total cadangan devisa, sehingga mengurangi kebutuhan tambahan pembelian.

Berdasarkan data WGC, pembelian oleh bank sentral menyumbang sekitar 17% dari total permintaan emas global pada tahun lalu.

Dengan dinamika tersebut, pasar emas diperkirakan tetap mendapat dukungan kuat dari bank sentral, meskipun laju pembeliannya berpotensi melambat seiring tingginya harga logam mulia tersebut.

Baca Juga: Harga Emas Turun Lebih dari 3% Saat Ketegangan Timur Tengah Picu Kekhawatiran Inflasi




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×