kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.725.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.708   -71,00   -0,40%
  • IDX 6.526   24,10   0,37%
  • KOMPAS100 849   6,96   0,83%
  • LQ45 645   5,86   0,92%
  • ISSI 228   -0,31   -0,14%
  • IDX30 360   3,72   1,04%
  • IDXHIDIV20 437   4,19   0,97%
  • IDX80 97   0,82   0,85%
  • IDXV30 121   0,51   0,43%
  • IDXQ30 114   1,21   1,07%

Dolar AS Tertekan, Investor Ragukan Jurus Treasury


Jumat, 21 Agustus 2026 / 17:12 WIB
Dolar AS Tertekan, Investor Ragukan Jurus Treasury
ILUSTRASI. Dolar AS, Forex, Bond (REUTERS/Thomas White)


Sumber: Reuters | Editor: Nina Dwiantika

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan di pasar global. Mata uang greenback itu berada di jalur penurunan mingguan setelah investor menilai langkah pemerintah AS membeli kembali obligasi Treasury hanya mampu menjadi solusi sementara untuk meredam kenaikan imbal hasil.

Departemen Keuangan AS sebelumnya mengumumkan akan menggandakan pembelian kembali Treasury bertenor panjang menjadi sedikitnya US$ 4 miliar per operasi. Kebijakan ini berlaku untuk obligasi bertenor 10-20 tahun dan 20-30 tahun mulai September hingga awal November.

Laporan Reuters (21/8), Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga membuka kemungkinan pemerintah kembali meningkatkan pembelian Treasury. Menurut dia, langkah tersebut ditujukan untuk menjaga likuiditas pasar obligasi, terutama ketika pasar sedang menghadapi tekanan.

Namun, kebijakan tersebut belum mampu meyakinkan investor. Imbal hasil Treasury kembali naik setelah sempat turun. Investor menilai pembelian obligasi tidak menyelesaikan persoalan utama, yakni membengkaknya utang dan defisit fiskal AS.

Kekhawatiran tersebut semakin besar setelah total utang pemerintah AS menembus US$ 40 triliun. Kondisi ini membuat investor mempertanyakan kemampuan pemerintah AS mengendalikan kebutuhan pembiayaan sekaligus menjaga kepercayaan terhadap aset negara tersebut.

Dampaknya terasa di pasar valuta asing. Indeks dolar berada di level 98,63 pada Jumat (21/8), dekat posisi terendah dalam tiga bulan. Dolar juga berada di jalur penurunan lebih dari 0,8% sepanjang pekan ini.

Sebaliknya, euro menguat ke sekitar US$ 1,1705 dan menuju kenaikan lebih dari 1% dalam sepekan. Pound sterling juga naik 0,08% menjadi US$ 1,3658 dan telah menguat sekitar 0,83% sepanjang pekan.

Baca Juga: Pemegang Saham Samsung Electronics Berpotensi Cuan Hingga 110 Triliun Won Tahun Ini

Analis menilai persoalan pasar obligasi AS kini bukan lagi sekadar masalah teknis. Fundamental fiskal menjadi perhatian utama investor sehingga langkah intervensi pemerintah dinilai belum cukup untuk menenangkan pasar dalam jangka panjang.

Goldman Sachs menilai pembuat kebijakan memang memiliki sejumlah instrumen untuk memengaruhi imbal hasil obligasi jangka panjang. Namun, dampaknya cenderung hanya sementara jika persoalan utama berupa kondisi fiskal tidak ikut dibenahi.

Tekanan di pasar Treasury juga penting bagi perekonomian AS. Imbal hasil obligasi pemerintah yang lebih tinggi akan meningkatkan biaya pinjaman pemerintah, perusahaan dan rumah tangga. Kondisi ini berpotensi ikut menekan pertumbuhan ekonomi.

Pada Jumat, imbal hasil Treasury AS bertenor 30 tahun naik sekitar 1,4 basis poin menjadi 5,2508%. Sementara imbal hasil Treasury 10 tahun berada di 4,7041% setelah sehari sebelumnya naik 4,5 basis poin.

Dengan kondisi tersebut, pasar kini menunggu langkah pemerintah AS untuk memperbaiki kondisi fiskalnya. Bessent bersama Direktur Anggaran Gedung Putih Russell Vought disebut akan menjalankan upaya konsolidasi fiskal baru atas arahan Presiden Donald Trump.

Bagi investor, pembelian kembali Treasury mungkin bisa meredam tekanan untuk sementara. Namun, tanpa langkah yang lebih konkret untuk mengendalikan defisit dan utang, kebijakan tersebut berisiko hanya menjadi penahan sementara terhadap persoalan yang lebih besar.

Baca Juga: Sektor Manufaktur Tertekan, Aktivitas Swasta India Hanya Pulih Tipis




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×