kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   20.000   0,73%
  • USD/IDR 17.900   47,00   0,26%
  • IDX 6.127   -2,81   -0,05%
  • KOMPAS100 807   -1,47   -0,18%
  • LQ45 611   -9,23   -1,49%
  • ISSI 216   0,35   0,16%
  • IDX30 348   -6,56   -1,85%
  • IDXHIDIV20 426   -11,92   -2,72%
  • IDX80 93   -0,89   -0,95%
  • IDXV30 118   -2,46   -2,04%
  • IDXQ30 112   -2,96   -2,59%

Dolar AS Tertekan Jumat (29/5), Setelah Muncul Laporan Gencatan Senjata AS-Iran


Jumat, 29 Mei 2026 / 08:34 WIB
Dolar AS Tertekan Jumat (29/5), Setelah Muncul Laporan Gencatan Senjata AS-Iran
ILUSTRASI. Forex - Dolar AS (via REUTERS/Majid Asgaripour)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah terhadap mata uang utama dunia pada perdagangan Jumat (29/5/2026) dan bersiap mencatat penurunan mingguan.

Menyusul laporan bahwa AS dan Iran mencapai kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata di Timur Tengah.

Baca Juga: Dari K-Pop ke K-Glow, Wisata Kecantikan Korea Selatan Makin Mendunia

Kesepakatan tersebut juga disebut mencakup pelonggaran pembatasan pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan energi dunia.

Empat sumber kepada Reuters mengatakan, perjanjian itu masih menunggu persetujuan Presiden Donald Trump.

Jika disetujui, gencatan senjata akan diperpanjang selama 60 hari sambil negosiator melanjutkan pembahasan isu-isu sensitif, termasuk program nuklir Iran.

Kabar tersebut langsung menekan harga minyak dunia dan mengurangi permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven.

Baca Juga: RI Tidak Termasuk, Ini 15 Negara yang Paling Dipercaya Investor di 2026

Meski demikian, pergerakan pasar masih cenderung hati-hati karena investor belum sepenuhnya yakin konflik dapat benar-benar mereda setelah sebelumnya muncul sinyal yang saling bertentangan dari Washington dan Teheran.

Euro tercatat menguat tipis ke level US$ 1,1653 pada perdagangan Asia, sementara poundsterling bergerak stabil di US$ 1,3445.

Dolar Australia diperdagangkan stabil di level US$ 0,7164 dan dolar Selandia Baru naik 0,2% menjadi US$ 0,5946, mendekati level tertinggi dalam lebih dari dua pekan terakhir.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama tercatat berada di level 98,997 setelah turun 0,2% pada Kamis.

Baca Juga: Pfizer Gaet Innovent Biologics dalam Kesepakatan Obat Kanker Senilai US$ 10,5 Miliar

Indeks tersebut kini berada di jalur untuk mengakhiri dua pekan penguatan berturut-turut dengan penurunan sekitar 0,3% secara mingguan.

Head of Strategy Global Sovereign Markets UBS Asset Management, Massimiliano Castelli, mengatakan pelemahan dolar kemungkinan akan tetap berlanjut jika konflik di Timur Tengah benar-benar mereda.

“Begitu krisis Iran dan Timur Tengah berakhir, kami memperkirakan dolar AS tetap berada dalam tren lemah,” ujarnya.

Menurut Castelli, konflik geopolitik sebelumnya sempat menopang dolar karena tingginya permintaan aset aman. Namun, banyak investor global kini mulai mencari diversifikasi dari aset berbasis dolar AS.

Yen Jepang juga menguat ke level 159,27 per dolar AS, menjauh dari level psikologis 160 yen per dolar yang sebelumnya beberapa kali memicu intervensi otoritas Jepang.

Baca Juga: Samsung Mulai Kirim Sampel Chip HBM4E untuk Pasar AI Global

Di sisi lain, data ekonomi terbaru menunjukkan inflasi AS meningkat pada April dengan laju tercepat dalam tiga tahun terakhir.

Kenaikan inflasi dipicu melonjaknya harga energi akibat perang Iran, sekaligus memperkuat pandangan ekonom bahwa Federal Reserve kemungkinan akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama hingga tahun depan.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×