Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
Kontroversi Politik
Sejumlah anggota Partai Demokrat menuduh Trump mempertaruhkan nyawa warga Amerika dalam perang pilihan (war of choice).
Mereka juga mempertanyakan keputusan menghentikan jalur diplomasi, padahal mediator Oman sebelumnya menyatakan pembicaraan damai masih memiliki peluang.
Trump mengklaim Iran hampir memiliki kemampuan menyerang AS dengan rudal balistik, meski menurut laporan Reuters, klaim tersebut tidak didukung laporan intelijen terbaru.
Pejabat pemerintahan juga mengakui dalam pengarahan tertutup bahwa tidak ada intelijen yang menunjukkan Iran berencana menyerang pasukan AS lebih dulu.
Survei Reuters/Ipsos menunjukkan hanya satu dari empat warga Amerika mendukung serangan terhadap Iran, sebagian karena kekhawatiran terhadap keselamatan pasukan AS dan potensi dampaknya terhadap pemilu paruh waktu November mendatang.
Baca Juga: Pentagon: Operasi ke Iran Bukan “Perang Tanpa Akhir”
Pengerahan Militer Berlanjut
Militer AS terus memperkuat kehadiran di Timur Tengah, bahkan setelah pengerahan terbesar sejak invasi Irak 2003.
Meski demikian, hingga kini belum ada indikasi kepemimpinan ulama konservatif Iran akan menyerahkan kekuasaan.
Hegseth menegaskan tidak ada pasukan darat AS di Iran saat ini, namun ia juga tidak menutup kemungkinan tersebut.
“Presiden Trump memastikan musuh memahami bahwa kami akan melangkah sejauh yang diperlukan untuk melindungi kepentingan Amerika,” ujarnya.













