kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.837.000   27.000   0,96%
  • USD/IDR 16.991   62,00   0,37%
  • IDX 7.097   -67,03   -0,94%
  • KOMPAS100 977   -12,33   -1,25%
  • LQ45 719   -12,76   -1,74%
  • ISSI 250   -1,82   -0,73%
  • IDX30 391   -7,50   -1,88%
  • IDXHIDIV20 489   -9,60   -1,93%
  • IDX80 110   -1,54   -1,38%
  • IDXV30 134   -2,11   -1,54%
  • IDXQ30 128   -2,18   -1,68%

Dua Jempol untuk Perdagangan Bursa Asia di Awal 2009


Senin, 05 Januari 2009 / 09:06 WIB
Dua Jempol untuk Perdagangan Bursa Asia di Awal 2009


Sumber: Bloomberg |

TOKYO. Saham-saham Asia menanjak, mendorong indeks patokan untuk melompat paling tinggi sejak 2004. Rupanya optimisme sudah mulai menambal perekonomian yang menyusut. Kenaikan harga minyak juga menyurung prospek pendapatan untuk perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang energi.

Panasonic Corp., produsen elektronik terbesar di dunia, membukukan kenaikan sebesar 3,1% setelah Wall Street Journal membeberkan bahwa Presiden terpilih Barack Obama kemungkinan akan memotong pajak sebesar US$ 310 miliar. Lebih dari itu, yen juga melemah terhadap dolar AS.

Sementara itu, Rio Tinto Group, perusahaan tambang terbesar nomer tiga di dunia juga melonjak setelah harga komoditi terutama tembaga dan nikel mulai merangkak naik. Sedangkan Mitsubishi UFJ Financial Group Inc. boleh lega karena bisa menambah kekuatan sebesar 4,4% dari harga penutupan di Tokyo. Pasalnya, surat kabar di negeri Sakura itu memberitakan bahwa pemerintah kemungkinan akan membeli utang yang buruk dari perbankan.

MSCI Asia Pacific Index mumbul 0,8% menjadi 90,85 pada pukul 9.15 waktu Tokyo. Sedangkan Nikkei 225 Stock Average juga merangsek 2,8% menjadi 9.103,79. Indeks patokan di Korea Selatan dan Australia juga mencebur ke kolam hijau. Sejumlah bursa tak melakukan perdagangan selama empat hari belakangan karena masih libur tahun baru.

"Kebijakan pemerintah sebaiknya mendukung pasar untuk menggaet kembali para pemilik modal untuk bersama-sama mencengkeram fundamental perekonomian yang memburuk," kata Tomochika Kitaoka, analis Mizuho Securities Co. di Tokyo, seperti dikutip dari Bloomberg Television.




TERBARU

[X]
×