Dua tahun berturut-turut, Korea Utara dikecualikan dari rencana bantuan PBB

Senin, 06 Desember 2021 | 10:03 WIB Sumber: Yonhap,Yonhap
Dua tahun berturut-turut, Korea Utara dikecualikan dari rencana bantuan PBB

ILUSTRASI. Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un.


KONTAN.CO.ID - SEOUL. PBB kembali mengecualikan Korea Utara dalam rancana bantuan kemanusiaan tahunannya untuk tahun 2022. Hal ini sepertinya masih terkait dengan keputusan Korea Utara yang menutup perbatasannya selama pandemi Covid-19.

Yonhap melaporkan bahwa Korea Utara disebut dalam Tinjauan Kemanusiaan Global 2022 yang dirilis oleh Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA). Korea Utara diakui akan mengalami situasi kerawanan pangan akut pada akhir tahun ini.

"Afghanistan, Korea Utara, dan Myanmar menghadapi situasi kerawanan pangan akut, yang kemungkinan akan semakin memburuk pada akhir tahun ini," ungkap OCHA.

Meskipun demikian, hanya Afghanistan dan Myanmar yang masuk ke dalam daftar rencana tanggapannya untuk kawasan Asia-Pasifik. Ini merupakan kedua kalinya secara berturut-turut Korea Utara tidak dimasukkan ke dalam rencana bantuan kemanusiaan PBB.

Baca Juga: Kim Jon Un kembali muncul di publik setelah menghilang selama satu bulan

Pengecualian ini diduga masih terkait dengan keputusan Korea Utara yang masih mempertahankan penguncian perbatasan yang ketat untuk mencegah virus corona.

Aturan tersebut, yang sudah berlaku selama dua tahun, mendorong anggota staf organisasi internasional yang diperlukan untuk pemantauan dan penilaian di tempat untuk meninggalkan Korea Utara.

Kondisi buruk Korea Utara juga sudah diramalkan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) dalam laporan rutinnya bulan Desember. Korea Utara termasuk di antara 44 negara yang membutuhkan bantuan eksternal untuk makanan. FAO juga memperkirakan sebagian besar penduduk Korea Utara ada di tingkat konsumsi makanan yang rendah.

"Kendala ekonomi yang terus berlanjut, serta langkah-langkah pembatasan untuk mengendalikan penyebaran Covid-19, telah secara signifikan mengurangi impor, termasuk input pertanian penting dan barang-barang kemanusiaan. Hal ini meningkatkan kerentanan penduduk terhadap kerawanan pangan," ungkap FAO.

Baca Juga: Puji para sukarelawan muda, Kim Jong Un: Mereka pahlawan yang mengagumkan

Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

Terbaru