Sumber: Channel News Asia | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Jumlah kasus penipuan (scam) di Singapura turun 27,6% sepanjang 2025, menandai penurunan pertama sejak data scam dilaporkan secara terpisah pada 2023.
Melansir Channelnewsasia Kamis (26/2/2026), menurut data tahunan yang dirilis Singapore Police Force (SPF), tercatat 37.308 kasus scam pada 2025, turun dari 51.501 kasus pada 2024.
Total kasus scam dan kejahatan siber juga menurun 24,8% menjadi 41.974 kasus.
Baca Juga: Moody’s: Defisit Fiskal Vietnam Melebar Imbas Belanja Infrastruktur Jumbo
Total kerugian akibat scam ikut menyusut 17,9% dari sekitar S$1,124 miliar pada 2024 menjadi S$913,1 juta pada 2025.
Namun, kerugian dalam bentuk mata uang kripto masih signifikan, mencapai sekitar 20% dari total atau sekitar S$182,2 juta.
Pemerintah Klaim Strategi Anti-Scam Efektif
SPF menyebut penurunan ini dipicu strategi anti-scam dan edukasi publik yang membuat pelaku lebih sulit berhasil.
Komando Anti-Scam (ASCom) berhasil memulihkan sekitar S$140,5 juta dana korban pada 2025 serta mencegah potensi kerugian hingga S$348 juta.
Baca Juga: Won Korsel dan Dolar Taiwan Pimpin Penguatan Mata Uang Asia Kamis (26/2/2026)
Meski demikian, 81,8% kasus scam terjadi melalui transfer yang dilakukan sendiri oleh korban (self-effected transfers), di mana korban secara sukarela mentransfer uang setelah dimanipulasi melalui rekayasa sosial.
Lebih dari 7.000 kurir uang (money mule) dan pelaku yang diduga terlibat telah diselidiki sepanjang 2025, dengan lebih dari 940 orang telah didakwa.
Menteri Negara Urusan Dalam Negeri Goh Pei Ming menegaskan bahwa meski angka turun, situasi masih “sangat mengkhawatirkan” dan perang melawan scam “masih jauh dari selesai”.
Jenis Scam yang Mengkhawatirkan
Lima jenis scam teratas pada 2025 adalah: e-commerce, phishing, lowongan kerja palsu, investasi, dan peniruan pejabat pemerintah.
Kasus peniruan pejabat pemerintah melonjak 123,6% menjadi 3.363 kasus. Kerugian dari modus ini juga melonjak 60,5% menjadi sekitar S$242,9 juta.
Baca Juga: Harga Minyak Naik Kamis (26/2) Pagi: Brent ke US$ 71,12 dan WTI ke US$ 65,65
Sementara itu, kasus e-commerce scam meski tetap yang terbanyak turun 42,5% menjadi 6.703 kasus.
Kartu koleksi Pokémon menjadi barang paling sering terlibat, menyumbang 13,6% kasus e-commerce scam, banyak terjadi di platform seperti Carousell dan Facebook Marketplace.
Untuk nilai kerugian, scam investasi menjadi penyumbang terbesar dengan total S$336,2 juta, naik 4,8% dari tahun sebelumnya.
Profil Korban dan Platform yang Digunakan
Sebanyak 85,2% korban scam berusia di bawah 65 tahun. Kelompok usia 30–49 tahun mencatat proporsi terbesar (36,1%).
Meski lansia (65 tahun ke atas) hanya menyumbang 14,8% korban, rata-rata kerugian per korban lansia mencapai lebih dari S$37.000—tertinggi di antara semua kelompok usia.
Media sosial dan platform online masih menjadi sarana utama pelaku menjangkau korban, digunakan dalam 84,1% kasus.
Platform milik Meta Platforms terlibat dalam 35,4% kasus, dengan Facebook sendiri menyumbang 18%.
Baca Juga: Emas Menguat Tipis Ditopang Dolar Melemah Kamis (26/2), Cermati Perundingan AS-Iran
SPF juga mencatat penurunan signifikan kasus pada platform yang tunduk pada Undang-Undang Online Criminal Harms Act (OCHA) yang mulai berlaku pada 2024, dengan penurunan 36,5%.
Sepanjang 2025, lebih dari 105.000 nomor ponsel terkait scam telah diblokir lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2024.
Otoritas Pengembangan Media dan Informasi (IMDA) juga membatasi registrasi maksimal 10 kartu SIM pascabayar per individu untuk mencegah penyalahgunaan.
Meski tren menurun, otoritas menegaskan bahwa scam tetap menjadi jenis kejahatan paling dominan di Singapura dan membutuhkan upaya berkelanjutan lintas sektor, baik domestik maupun internasional.













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)