kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45725,83   16,46   2.32%
  • EMAS914.000 0,11%
  • RD.SAHAM 0.55%
  • RD.CAMPURAN 0.20%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Diserang hacker, Bank Sentral Uni Eropa (ECB) menutup salah satu situs web


Kamis, 15 Agustus 2019 / 22:46 WIB
Diserang hacker, Bank Sentral Uni Eropa (ECB) menutup salah satu situs web
ILUSTRASI. European Central Bank

Sumber: Reuters | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - FRANKFURT. Bank Sentral Eropa alias European Central Bank (ECB) telah menutup salah satu situs webnya pada hari Kamis (15/8). Penutupan mereka lakukan setelah diretas dan terinfeksi oleh perangkat lunak berbahaya.

ECB mengatakan tidak ada data sensitif pasar yang telah dikompromikan selama serangan terhadap Banks’ Integrated Reporting Dictionary (BIRD). BIRD digunakan untuk memberi informasi para bankir tentang pembuatan laporan statistik dan pengawasan.

Baca Juga: The Fed hadapi dilema gara-gara pembalikan kurva imbal hasil US Treasury

ECB menambahkan, malware telah disuntikkan di server hosting situs. Alamat email dan nama pelanggan buletin BIRD mungkin telah bocor.

Seorang juru bicara ECB menambahkan, bukti paling awal yang ditemukan dari serangan ini adalah pada Desember 2018. Artinya, serangan tidak terdeteksi berbulan-bulan sebelum ditemukan saat pemeliharaan.

"ECB sedang menghubungi orang-orang yang datanya mungkin terpengaruh," ungkap ECB. 

"Pelanggaran tersebut berhasil menyuntikkan malware ke server eksternal untuk membantu kegiatan phishing," imbuh ECB.

Baca Juga: Cuitan Trump bikin investor berlari mencari perlindungan

Diluncurkan pada 2015, BIRD adalah inisiatif bersama dari Eurosystem bank-bank sentral Zona Euro dan industri perbankan. Partisipasi di dalamnya bersifat sukarela tetapi isinya disediakan untuk semua pihak yang berkepentingan.

ECB mengatakan, BIRD diselenggarakan oleh penyedia pihak ketiga dan terpisah dari sistem ECB lainnya. "Baik sistem internal ECB maupun data yang sensitif terhadap pasar tidak terpengaruh," kata ECB.

Bank-bank sentral dari Malaysia hingga Ekuador telah menjadi sasaran para peretas dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu perampokan cyber terbesar di dunia terjadi pada tahun 2016 ketika penipu mencuri US$ 81 juta dari rekening bank sentral Bangladesh di Fed New York menggunakan perintah penipuan pada sistem pembayaran SWIFT.



TERBARU

[X]
×