Ekonomi AS Melambat, Janet Yellen: Risiko Resesi Tak Bisa Dihindari

Senin, 25 Juli 2022 | 05:40 WIB Sumber: Reuters
Ekonomi AS Melambat, Janet Yellen: Risiko Resesi Tak Bisa Dihindari


KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Janet Yellen mengatakan, pertumbuhan ekonomi AS melambat dan mengakui ada risiko resesi. Ia mengatakan, perlambatan ekonomi yang berimbas pada resesi tak bisa dihindari.

Mengutip Reuters, Senin (25/7), Yellen, berbicara di "Meet the Press" NBC, mengatakan angka perekrutan AS yang kuat dan pengeluaran konsumen menunjukkan ekonomi AS saat ini tidak dalam resesi.

Perekrutan AS tetap kuat pada bulan Juni, dengan 372.000 pekerjaan diciptakan dan tingkat pengangguran bertahan di 3,6%. Itu adalah kenaikan pekerjaan keempat bulan berturut-turut lebih dari 350.000.

"Ini bukan ekonomi yang berada dalam resesi," kata Yellen, yang sebelumnya memimpin Federal Reserve. 

Baca Juga: Hasil FOMC Meeting, Jadi Momen Krusial Pasar Aset Kripto

"Tapi kita berada dalam periode transisi di mana pertumbuhan melambat dan itu perlu dan tepat."

Namun, data pekan lalu menunjukkan pasar tenaga kerja melemah dengan klaim baru untuk tunjangan pengangguran mencapai titik tertinggi dalam delapan bulan.

Yellen mengatakan bahwa inflasi terlalu tinggi dan kenaikan suku bunga Fed baru-baru ini membantu membawa harga yang melonjak kembali terkendali.

Selain itu, pemerintahan Biden menjual minyak dari Cadangan Minyak Strategis, yang menurut Yellen telah membantu menurunkan harga gas.

"Kami telah melihat harga gas hanya dalam beberapa pekan terakhir turun sekitar 50 sen (satu galon) dan seharusnya ada lebih banyak lagi dalam pipa," katanya.

Yellen, yang juga mantan Gubernur Fed, berharap bank sentral dapat mendinginkan ekonomi cukup untuk menurunkan harga tanpa memicu penurunan ekonomi yang luas.

"Saya tidak mengatakan bahwa kita pasti akan menghindari resesi," kata Yellen. 

"Tapi saya pikir ada jalan yang membuat pasar tenaga kerja tetap kuat dan menurunkan inflasi."

PDB AS menyusut pada tingkat tahunan 1,6% pada kuartal pertama, dan sebuah laporan pada hari Kamis diperkirakan akan menunjukkan kenaikan hanya 0,4% pada kuartal kedua, menurut ekonom yang disurvei oleh Reuters.

Baca Juga: Bank Indonesia Kembali Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global 2022, Jadi 2,9%

Yellen mengatakan bahwa bahkan jika angka kuartal kedua negatif itu tidak akan menandakan bahwa resesi telah terjadi, mengingat kekuatan di pasar kerja dan permintaan yang kuat.

"Resesi adalah kelemahan ekonomi yang luas. Kami tidak melihatnya sekarang," katanya.

Para ekonom secara tradisional mendefinisikan resesi sebagai dua kuartal berturut-turut dari kontraksi ekonomi, tetapi kelompok swasta yang dianggap sebagai wasit resmi resesi AS melihat berbagai indikator.

Editor: Herlina Kartika Dewi

Terbaru