Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID. Harga emas dunia bertahan di atas level psikologis US$5.000 per ons troi pada perdagangan Senin (9/2/2026), ditopang pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) serta meningkatnya fokus investor pada rilis data ekonomi AS pekan ini yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga ke depan.
Melansir Reuters, harga emas spot naik 1,1% ke posisi US$5.012,53 per ons troi pada pukul 09.48 GMT, setelah melonjak sekitar 4% pada perdagangan Jumat lalu.
Sementara itu, emas berjangka AS untuk pengiriman April juga menguat 1,1% ke US$5.033,70 per ons troi.
Baca Juga: Eropa Harus Bersiap Ambil Peran Lebih Besar sebagai Safe Haven Global
Analis senior XS.com Rania Gule menilai, penguatan harga emas mencerminkan kembalinya peran emas sebagai aset lindung nilai yang netral secara geopolitik.
“Emas kembali mengambil peran historisnya sebagai aset berdaulat yang netral. Ini menjelaskan lonjakan permintaan yang kuat, terutama di tengah menurunnya minat terhadap dolar AS sebagai aset safe haven,” ujar Gule.
Pelemahan dolar AS turut mendukung reli emas. Indeks dolar tercatat turun sekitar 0,3%, membuat emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar menjadi lebih murah bagi pembeli luar negeri.
Pelaku pasar kini mencermati sejumlah rilis data ekonomi penting dari AS, termasuk laporan nonfarm payrolls Januari, data inflasi konsumen (CPI), serta klaim awal pengangguran.
Baca Juga: Pemilu Bangladesh 2026 Jadi Ujian Demokrasi Pasca Hasina, BNP Difavoritkan Menang
Data-data tersebut akan menjadi acuan pasar dalam menilai arah kebijakan moneter Federal Reserve, di mana saat ini pasar telah memperhitungkan setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga masing-masing sebesar 25 basis poin pada 2026.
Suku bunga yang lebih rendah cenderung menguntungkan harga emas karena menurunkan opportunity cost kepemilikan aset yang tidak memberikan imbal hasil tersebut.
Presiden Federal Reserve San Francisco, Mary Daly, pada Jumat lalu menyatakan bahwa pasar tenaga kerja AS berada dalam kondisi “rentan”, sehingga pemangkasan suku bunga lanjutan masih berpeluang dilakukan.
Baca Juga: Saham Eropa Menguat, Kekhawatiran Sektor Teknologi Mulai Mereda
Dari sisi permintaan global, Bank Sentral China kembali menambah cadangan emasnya untuk bulan ke-15 berturut-turut pada Januari, berdasarkan data People’s Bank of China yang dirilis Sabtu lalu.
Langkah tersebut, menurut Gule, mencerminkan strategi diversifikasi cadangan devisa dari dolar AS sekaligus upaya mengurangi eksposur terhadap risiko geopolitik dan keuangan global.
Sementara itu, harga perak spot melonjak 4,3% ke US$81,32 per ons troi, melanjutkan penguatan hampir 10% pada sesi sebelumnya. Harga perak sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di US$121,64 pada 29 Januari.
Baca Juga: Harga Minyak Turun Lebih dari 1%, Pembicaraan AS-Iran Meredakan Kekhawatiran Pasokan
“Perak lebih bersifat sebagai aset berisiko dibanding emas. Saat selera risiko pasar menguat, perak biasanya mencatatkan kinerja yang lebih baik dibanding emas,” ujar analis City Index dan FOREX.com, Fawad Razaqzada.
Adapun harga platinum tercatat turun 1,5% ke US$2.065,10 per ons troi, sedangkan palladium melemah 1,1% ke US$1.687,50 per ons troi.












