Ekonomi China Melambat di Kuartal II 2022

Jumat, 15 Juli 2022 | 14:48 WIB   Reporter: Ferrika Sari
Ekonomi China Melambat di Kuartal II 2022

ILUSTRASI. Pertumbuhan ekonomi China melambat tajam pada kuartal II 2022.. REUTERS/Stringer ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY. CHINA OUT.


KONTAN.CO.ID - BEIJING. Pertumbuhan ekonomi China melambat tajam pada kuartal II 2022. Hal ini menandakan penurunan besar dalam aktivitas ekonomi akibat penguncian Covid-19 yang meluas dan tekanan lanjutan dalam beberapa bulan mendatang karena prospek global yang memburuk.

Kondisi ini memicu kekhawatiran resesi global karena regulator menaikkan suku bunga untuk menahan laju inflasi dengan memberikan lebih banyak tekanan pada konsumen dan bisnis di seluruh dunia karena mereka bergulat dengan masalah yang berkaitan dengan perang Ukraina dan gangguan rantai pasokan.

Berdasarkan data resmi, Produk domestik bruto (PDB) China naik sedikit 0,4% yoy pada April-Juni. Itu adalah kinerja terburuk untuk ekonomi terbesar kedua di dunia sejak pengumpulan data dimulai pada 1992, di bawah kontraksi 6,9% pada kuartal pertama 2020 karena guncangan Covid awal. 

Bahkan realisasi itu lebih rendah dari perkirakan analis Reuters sebesar 1,0% dan mencatat perlambatan tajam dalam pertumbuhan dari 4,8% pada kuartal pertama.

Baca Juga: Pertumbuhan China di Kuartal Kedua Melambat Drastis, Prospek Global Makin Suram

Secara triwulanan, PDB turun 2,6% pada kuartal kedua dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, dibandingkan dengan penurunan yang diharapkan sebesar 1,5% dan pertumbuhan 1,4% yang direvisi pada kuartal sebelumnya.

Kepala Ekonom Daiichi Life Research Institute di Tokyo Toru Nishihama menyatakan, ekonomi China berada di ambang stagnasi. 

"Meskipun yang terburuk ada di belakang kita antara periode Mei dan Juni. Anda dapat mengesampingkan kemungkinan resesi atau kontraksi selama dua kuartal berturut-turut," kata Toru dikutip dari Reuters, Jumat (15/7). 

Seiring dengan pertumbuhan moderat, ia memperkirakan pemerintah China akan menerapkan langkah-langkah stimulus ekonomi mulai sekarang untuk mempercepat pertumbuhan yang melemah, tetapi bank sentral China (PBOC) menghadapi tantangan besar untuk penurunan suku bunga lebih lanjut karena ini akan memicu inflasi.

Penguncian penuh atau sebagian diberlakukan di pusat-pusat utama di seluruh negeri pada bulan Maret dan April, termasuk di Shanghai. Akibatnya, PDB berkontraksi 13,7% yoy pada kuartal II 2022. Sektor manufaktur di Beijing juga turun 2,9% yoy.

Sementara banyak dari pembatasan ini telah dicabut dan data Juni menunjukkan tanda-tanda perbaikan. 

Namun analis tidak memperkirakan ekonomi pulih dengan cepat. China berpegang teguh pada kebijakan Covid-19 yang keras di tengah wabah baru, tekanan pasar properti dan prospek ekonomi global suram.

Pembatasan baru di beberapa kota dan munculnya varian BA.5 yang sangat menular telah meningkatkan kekhawatiran bisnis dan konsumen tentang periode ketidakpastian yang berkepanjangan. Akibatnya, PDB hanya tumbuh 2,5% yoy pada semester I 2022. 

China meningkatkan dukungan politik untuk ekonomi, meskipun para analis mengatakan target pertumbuhan resmi sekitar 5,5% tahun ini akan sulit dicapai tanpa mengabaikan strategi nol Covid yang ketat. Jajak pendapat Reuters memperkirakan pertumbuhan akan melambat menjadi 4% pada tahun 2022. 

Analis Nomura menilai, ada peningkatan inflasi di China, walau tidak setinggi ekonomi utama lainnya, tetap dapat menambah hambatan pada pelonggaran moneter. 

"Kami pikir pasar menjadi terlalu optimis tentang pertumbuhan di paruh kedua tahun ini," katanya. 

Baca Juga: Stagflasi Serius Ancam Ekonomi Dunia, Ini Dampaknya Jika Terjadi di Indonesia

Tercatat aktivitas industri China naik 3,9% yoy pada Juni 2022, atau meningkat dari kenaikan 0,7% pada Mei lalu. Investasi juga naik 6,1% lebih baik dari perkiraan dalam enam bulan pertama tahun ini dari tahun sebelumnya.

Penjualan ritel juga meningkat 3,1% yoy dan membukukan pertumbuhan tercepat dalam 4 bulan sejak otoritas Shanghai mencabut penguncian dua bulan. Analis memperkirakan tidak ada pertumbuhan setelah penurunan 6,7% di bulan Mei.

"Kenaikan ritel menunjukkan bahwa penguncian telah menjadi penghalang utama tingkat konsumsi," kata CEO WPIC Marketing + Technologies di Beijing Jacob Cook. 

Namun konsumen masih khawatir terhadap ketidakpastian akibat penguncian walaupun tidak seketat sebelumnya. Ia tetap optimistis bahwa tingkat konsumsi China akan terus pulih di paruh kedua tahun ini.

Editor: Herlina Kartika Dewi

Terbaru