Reporter: Harris Hadinata | Editor: Harris Hadinata
KONTAN.CO.ID - AMMAN/NEW YORK. Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran bakal berdampak sangat buruk bagi Timur Tengah. Sebuah studi baru yang dilakukan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut, potensi pertumbuhan ekonomi yang hilang dari perang ini mencapai ratusan miliar dolar AS.
Berdasarkan riset yang dilakukan United Nations Development Programme (UNDP), eskalasi militer di Timur Tengah bakal menghilangkan sekitar 3,7% hingga 6,0% dari produk domestik bruto (PDB) kolektif kawasan ini. Dalam dolar AS, nilainya berkisar antara US$ 120 miliar hingga US$ 194 miliar.
Kerugian tersebut melebihi pertumbuhan PDB regional kumulatif yang dicapai pada 2025. UNDP juga melihat ada potensi peningkatan pengangguran hingga 4 poin persentase atau 3,6 juta pekerjaan.
Baca Juga: Asia Berburu Energi Alternatif, Skema Barter Jadi Solusi di Tengah Krisis Iran
Jumlah tersebut lebih banyak dibanding total pekerjaan yang diciptakan di kawasan ini pada 2025. UNDP menghitung, kondisi ini akan mendorong hingga 4 juta orang ke dalam kemiskinan.
“Krisis ini membunyikan alarm bagi negara-negara di kawasan Arab untuk secara fundamental mengevaluasi kembali pilihan strategis tentang kebijakan fiskal, sektoral, dan sosial,” kata Abdallah AlDardari, Asisten Sekretaris Jenderal PBB dan Direktur Biro Regional untuk Negara-negara Arab di UNDP, dalam keterangan resmi, Selasa (31/3/2026).
Temuan UNDP tersebut juga menyebut dampak dari perang ini di berbagai negara Timur Tengah tidak seragam. Dampaknya bervariasi secara signifikan karena karakteristik struktural subwilayah utama.
Baca Juga: Drone Ukraina Serang Terminal Minyak Rusia di Pelabuhan Baltik
UNDP memperkirakan efek terbesar akan dirasakan di dua kawasan. Pertama di wilayah negara-negara anggota Dewan Kerjasama Teluk, yakni Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Bahrain, dan Oman. Kedua, di wilayah Levant, yang mencakup Lebanon, Suriah, Yordania, Israel, dan Palestina.
Alasannya, paparan kuat terhadap gangguan perdagangan dan volatilitas pasar energi mendorong penurunan signifikan dalam output, investasi, dan perdagangan di wilayah tersebut. Wilayah negara Dewan Kerjasama Teluk berpotensi kehilangan 5,2%-8,5% dari PDB.
Sementara wilayah Levant diprediksi bakal kehilangan 5,2% hingga 8,7% dari PDB masing-masing. Peningkatan angka kemiskinan terkonsentrasi di wilayah Levant dan negara-negara Arab yang kurang berkembang.
Baca Juga: Perang Berlanjut, Goldman Sachs Pertahankan Prediksi Emas Tembus US$ 5.400
Di Levant, krisis diperkirakan akan meningkatkan kemiskinan sebesar 5% dan membuat sekitar 2,85 juta hingga 3,30 juta orang jatuh ke dalam kemiskinan. Jumlah tersebut mencakup lebih dari 75% peningkatan kemiskinan di seluruh wilayah tersebut.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di wilayah tersebut diperkirakan akan menurun sekitar 0,2%-0,4%. Penurunan tersebut setara dengan kemunduran sekitar setengah tahun hingga hampir satu tahun kemajuan pembangunan manusia.













