Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - BEIJING. Ekspor dan impor China diperkirakan turun dua digit pada bulan April 2020 meski China sudah mulau pulih dari wabah corona.
Namun, karena pandemi corona memicu penurunan permintaan global dan mengganggu rantai pasokan manufaktur, ekspor dan impor China juga terpengaruh.
Hasil survei Reuters, Rabu (6/5) menunjukkan, proyeksi pesimistis ini memperkuat kekhawatiran bahwa jatuhnya permintaan global akan menahan pemulihan ekonomi China ketika China bangkit kembali setelah lumpuh berminggu-minggu karena wabah virus corona.
Baca Juga: Perang Dingin berkobar, hubungan China-AS ada di titik terendah dalam 40 tahun!
Pengiriman barang dari China kemungkinan turun 15,7% pada April dari periode sama tahun lalu, menurut perkiraan median dari survei 28 ekonom. Ini jauh lebih buruk daripada kontraksi sebesar 6,6% pada Maret 2020. Ekspor China berkontraksi sebesar 17,2% dalam dua bulan pertama tahun ini.
Sementara impor China diperkirakan menyusut 11,2% pada April 2020, penurunan paling tajam sejak Juli 2016. Juga menyusut lebih dalam dibandingkan penurunan impor 0,9% di bulan sebelumnya.
Surplus perdagangan China untuk bulan April 2020 diperkirakan mencapai US$ 6,35 miliar, turun dari US$ 19,9 miliar di bulan Maret.
"Retak dalam rantai pasokan luar negeri dan menyusutnya permintaan akan menyebabkan penurunan ekspor lebih lanjut (untuk kuartal kedua)," kata analis di Industrial Bank di Shanghai dalam sebuah catatan. Ia menambahkan lebih dari setengah perdagangan pemrosesan China tergantung pada impor bahan dari negara lain.
Bank ini memperkirakan ekspor China akan turun 15% pada kuartal kedua 2020, dibandingkan dengan penurunan 13,3% pada kuartal pertama 2020.
Baca Juga: Warning China ke Inggris: Kritik anti-Tiongkok berisiko meracuni hubungan baik
Pabrik-pabrik China mengalami penurunan pesanan ekspor pada April 2020, survei terbaru menunjukkan. Pelanggan asing membatalkan sebagian besar pesanan karena krisis kesehatan menutup sebagian besar perekonomian dunia.
Kuartal kedua biasanya merupakan musim yang sibuk untuk bisnis kontainer di pelabuhan-pelabuhan China. Tetapi ketika penyakit pernapasan corona menyebar secara global, pertumbuhan lalu lintas peti kemas terpukul perlambatan logistik global dan pengurangan kapasitas di perusahaan perkapalan.
Diperkirakan lalu lintas peti kemas dapat turun 10% -15% pada kuartal kedua 2020.
Baca Juga: Wakil Gubernur The Fed meramal pengangguran AS bisa naik ke tingkat terburuk
Bulan lalu, China mengumumkan bahwa pertemuan parlemen atau Kongres Rakyat Nasional akan dibuka pada 22 Mei 2020, ketika Beijing mengungkapkan target ekonomi dan target sosial utama untuk tahun itu.
"Kami pikir China kemungkinan besar akan secara substansial menurunkan target pertumbuhan PDB 2020 karena pukulan hebat dari wabah corona pada ekonomi China dan global," kata analis Nomura.
Nomura sendiri memperkirakan ekonomi China tahun ini akan tumbuh tidak lebih tinggi dari 3%.
China juga menghadapi tekanan baru di bidang perdagangan karena Presiden Amerika Serikat (AS) AS Donald Trump mengancam tarif baru pada China sebagai balasan atas meluasnya pandemi corona.
Baca Juga: Trump desak China untuk mengungkap asal usul virus corona













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)