Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Sutradara peraih Oscar Alex Gibney berharap film dokumenter terbarunya, Musk, dapat memicu perdebatan mengenai besarnya kekuasaan para miliarder teknologi dan mendorong masyarakat untuk merebut kembali kendali dari apa yang ia sebut sebagai “oligarki teknologi”.
Melansir Reuters, Gibney menyampaikan hal tersebut saat menghadiri Toronto International Film Festival (TIFF) pada Minggu (13/9/2026), untuk pemutaran perdana Musk di Amerika Utara.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Lebih dari 2% Senin (14/9) Pagi, Brent ke US$ 107 per Barel
Film berdurasi hampir empat jam tersebut mengulas perjalanan Elon Musk, mulai dari era dotcom hingga menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh di dunia teknologi melalui Tesla, SpaceX, dan Twitter yang kini dikenal sebagai X.
Gibney mengatakan, proyek tersebut awalnya hanya berdurasi sekitar dua jam. Namun, cakupan film diperluas setelah Musk menjadi sekutu dekat Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
“Saya berharap ini menjadi awal dari sebuah diskusi bagi kita semua, bukan hanya warga Amerika Serikat, tetapi juga masyarakat dunia, untuk mulai merebut kembali kekuasaan dari para oligarki teknologi yang tampaknya ingin menjalankan dunia untuk kepentingan mereka sendiri,” ujar Gibney.
Menurut Gibney, film tersebut pada dasarnya mengangkat persoalan mengenai bagaimana kekuasaan yang absolut dapat memengaruhi seseorang.
“Ini sebenarnya film tentang bagaimana kekuasaan absolut dapat merusak. Atau mungkin, bagaimana kekuasaan justru mengungkap karakter seseorang,” kata dia.
Baca Juga: Dolar Stabil, Yen Bertahan Dekati Level Tertinggi 7 Bulan Jelang The Fed dan BOJ
Ia mempertanyakan apakah Musk memang sejak awal akan berkembang ke arah tersebut atau perubahan itu merupakan konsekuensi dari kekuasaan yang semakin besar.
Dokumenter tersebut juga menampilkan sejumlah orang yang pernah berada dekat dengan Musk, termasuk ayahnya, Errol Musk, mantan CEO Tesla Martin Eberhard, serta Ashley St. Clair, mantan pasangan Musk dan ibu dari salah satu anaknya.
Soroti kekuasaan Musk
Gibney mengatakan, salah satu tantangan terbesar dalam pembuatan film tersebut adalah menggambarkan luasnya pengaruh Musk di pemerintahan Amerika Serikat, sekaligus menunjukkan minimnya akuntabilitas atas kekuasaan tersebut.
Menurut dia, para CEO perusahaan teknologi kini semakin dipandang sebagai “penjahat” dalam sistem politik Amerika Serikat yang disebutnya sebagai “ultimate pay-to-play presidency”.
Baca Juga: 3 Pemimpin Negara Bertemu, Bahas Rencana Keluar Dari Inggris Raya
Gibney menilai, sejumlah pemimpin perusahaan teknologi mengabaikan regulasi federal sembari mengakumulasi pengaruh yang pada akhirnya dapat mengurangi peran pengawasan demokratis.
“Bagi saya, hal yang paling mengkhawatirkan adalah luasnya kekuasaan itu di pemerintahan, serta ketidakjelasan pertanggungjawaban dan arah dari kekuasaan tersebut,” ujar Gibney.
Musk sendiri tidak memberikan wawancara untuk film tersebut. Menurut Gibney, pihaknya telah meminta wawancara kepada Musk, tetapi permintaan itu tidak mendapat tanggapan.
Sebagai gantinya, film menampilkan simulasi wawancara dengan karakter yang menyerupai Musk.
Karakter tersebut digambarkan mengenakan jaket kulit dan duduk di kursi kulit dalam sebuah ruangan futuristis dengan pencahayaan merah dan biru.
Naskah dalam simulasi tersebut dibuat berdasarkan kumpulan pernyataan dan komentar Musk yang disampaikan secara publik.
Dalam sejumlah adegan, simulasi tersebut berubah menjadi permainan video bergenre first-person shooter.
Karakter Musk digambarkan menembak sejumlah pekerja Twitter setelah mengakuisisi perusahaan media sosial tersebut.
Baca Juga: Trump Pertimbangkan Permintaan Merilis Lebih Banyak Dokumen Peristiwa 11 September
Film juga menggambarkan pemutusan hubungan kerja yang dilakukan melalui Department of Government Efficiency (DOGE), lembaga yang menjadi salah satu ciri awal pemerintahan kedua Trump, termasuk terhadap sejumlah regulator yang mengawasi perusahaan-perusahaan milik Musk.
Musk sebelumnya mengkritik Gibney melalui platform X. Ia menyebut Musk sebagai film yang tidak benar dan mengancam akan menggugat pembuat film tersebut.
Gibney mengatakan tim produksi telah melakukan pemeriksaan fakta secara ketat serta menjalani proses peninjauan hukum secara menyeluruh.
Sementara itu, Musk yang dihubungi melalui SpaceX tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters.
Musk sebelumnya telah ditayangkan perdana di Venice Film Festival dan dijadwalkan mulai diputar pada musim gugur tahun ini.














