CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.602.000   -2.000   -0,08%
  • USD/IDR 17.625   -2,00   -0,01%
  • IDX 6.510   -31,77   -0,49%
  • KOMPAS100 857   -1,60   -0,19%
  • LQ45 650   0,07   0,01%
  • ISSI 226   -1,30   -0,57%
  • IDX30 361   -0,50   -0,14%
  • IDXHIDIV20 450   0,94   0,21%
  • IDX80 98   0,06   0,06%
  • IDXV30 126   0,41   0,33%
  • IDXQ30 116   0,04   0,03%

Dolar Stabil, Yen Bertahan Dekati Level Tertinggi 7 Bulan Jelang The Fed dan BOJ


Senin, 14 September 2026 / 08:17 WIB
Dolar Stabil, Yen Bertahan Dekati Level Tertinggi 7 Bulan Jelang The Fed dan BOJ
ILUSTRASI. Forex - Dolar AS (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) bergerak stabil pada perdagangan Senin (14/9/2026), sementara yen bertahan di dekat level tertinggi dalam tujuh bulan.

Investor mencermati potensi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) dan Bank of Japan (BOJ) pada pekan yang krusial bagi kebijakan moneter global.

Tekanan inflasi global kembali menjadi perhatian setelah perang AS-Israel dengan Iran yang telah berlangsung selama enam bulan mendorong harga minyak mentah bertahan di atas US$ 100 per barel.

Baca Juga: 3 Pemimpin Negara Bertemu, Bahas Rencana Keluar Dari Inggris Raya

Kondisi tersebut turut mengubah ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga dan memicu aksi jual di pasar obligasi tenor panjang.

Bank Sentral Eropa (ECB) telah menaikkan suku bunga pada pekan lalu dan memberikan sinyal kemungkinan kenaikan lanjutan. Selanjutnya, perhatian pasar tertuju pada keputusan The Fed pada Rabu dan BOJ pada Jumat.

Sementara itu, Bank of England (BoE) diperkirakan mempertahankan suku bunga pada Kamis, meski keputusan tersebut berpotensi berlangsung ketat.

Pelaku pasar semakin memperbesar taruhan terhadap kenaikan suku bunga The Fed setelah data inflasi konsumen AS pada Jumat menunjukkan harga konsumen kembali meningkat pada Agustus.

Berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pekan ini mencapai 86%, dengan pasar juga memperkirakan kenaikan lanjutan sebelum akhir tahun.

"The Fed bisa saja memutuskan untuk menunggu, tetapi hal itu menjadi rumit karena pertemuan Oktober berlangsung tepat sebelum pemilu sela AS. Menunggu hingga Desember untuk bertindak akan terlalu lama," kata Shane Oliver, Kepala Ekonom sekaligus Kepala Strategi Investasi AMP.

Baca Juga: Trump Pertimbangkan Permintaan Merilis Lebih Banyak Dokumen Peristiwa 11 September

Di pasar valuta asing, euro berada di US$ 1,159, sementara poundsterling berada di US$ 1,3524.

Indeks dolar AS yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama berada di 99,15, relatif stabil setelah melemah tipis selama dua pekan berturut-turut.

Imbal hasil US Treasury juga bertahan di dekat level tertinggi dalam beberapa tahun. Imbal hasil obligasi AS tenor dua tahun yang sensitif terhadap ekspektasi suku bunga The Fed turun tipis menjadi 4,6148%, setelah melonjak 26 basis poin pada pekan lalu.

Meski imbal hasil obligasi AS meningkat dan ekspektasi suku bunga bergeser, kondisi tersebut sejauh ini belum mampu mendorong penguatan signifikan dolar. Pasalnya, bank sentral negara-negara maju lainnya juga diperkirakan menaikkan suku bunga.

Baca Juga: Pemuka Agama Di Negara Tetangga Indonesia Diguncang Skandal Seks & Penggelapan Dana

Analis ING menilai, kenaikan suku bunga The Fed dapat memberikan dukungan terhadap dolar karena akan memperkuat kredibilitas kebijakan moneter bank sentral AS.

"Kami menilai dolar akan menyambut kenaikan suku bunga karena hal itu akan mendukung kredibilitas kebijakan moneter The Fed," tulis analis ING.

Namun, ING memperkirakan penguatan dolar kemungkinan terbatas karena langkah tersebut lebih merupakan penyesuaian kebijakan The Fed, bukan awal dari siklus kenaikan suku bunga baru.

Di sisi lain, kenaikan harga minyak kembali menjadi faktor penting bagi pasar valuta asing.

Harga minyak Brent naik hampir 3% menjadi US$ 107,51 per barel pada perdagangan awal Asia setelah serangan baru Houthi terhadap Arab Saudi dan serangan Iran terhadap kapal-kapal di Teluk meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak global.

Baca Juga: Tesla Menghidupkan Kembali Mimpi Roadster Setelah Sedekade

Yen Menguat, BOJ Jadi Penentu

Yen Jepang berada di level 153,49 per dolar AS, tidak jauh dari level tertinggi tujuh bulan sebesar 152,89 yang dicapai pekan lalu.

Penguatan yen terjadi seiring perubahan sentimen pelaku pasar terhadap mata uang Jepang. Spekulan bahkan mulai mencatat posisi net long yen untuk pertama kalinya sejak Februari.

Analis MUFG mengatakan, kenaikan suku bunga BOJ sebesar 25 basis poin sudah hampir sepenuhnya diperhitungkan oleh pasar.

"Untuk membuat yen kembali menguat, BOJ harus memberikan sinyal bahwa mereka berencana mempertahankan laju kenaikan suku bunga yang lebih cepat," tulis analis MUFG.

Yen telah menguat sekitar 4% sepanjang September. Penguatan tersebut didorong ekspektasi bahwa BOJ akan mempercepat kenaikan suku bunga serta indikasi potensi repatriasi aset oleh investor domestik Jepang.

Baca Juga: Drone Rusia Serang 800 Meter dari Perbatasan Polandia, Ukraina Peringatkan NATO

Analis TD Securities memperingatkan bahwa jika BOJ tidak membuka kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan Oktober atau Desember, dolar berpotensi kembali menguat terhadap yen menuju level 157-160.

"Jika tidak menaikkan suku bunga, itu akan menjadi kesalahan besar. Jika tidak menyampaikan komunikasi yang kuat, itu juga akan menjadi kesalahan sendiri," kata James Athey, manajer portofolio pendapatan tetap di Marlborough.

Selain ekspektasi suku bunga, prospek repatriasi aset dan perubahan alokasi aset Government Pension Investment Fund (GPIF) Jepang juga disebut menjadi faktor penting yang menopang penguatan yen.




TERBARU

[X]
×