kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.615.000   -20.000   -0,76%
  • USD/IDR 18.119   -6,00   -0,03%
  • IDX 6.059   20,67   0,34%
  • KOMPAS100 791   2,74   0,35%
  • LQ45 600   -2,00   -0,33%
  • ISSI 210   2,89   1,39%
  • IDX30 339   -1,49   -0,44%
  • IDXHIDIV20 421   -2,13   -0,50%
  • IDX80 90   0,20   0,23%
  • IDXV30 115   0,54   0,47%
  • IDXQ30 109   -0,53   -0,49%

Emas Sentuh Level Terendah Dua Pekan, Lonjakan Harga Minyak Picu Kekhawatiran Inflasi


Selasa, 14 Juli 2026 / 09:04 WIB
Emas Sentuh Level Terendah Dua Pekan, Lonjakan Harga Minyak Picu Kekhawatiran Inflasi
ILUSTRASI. Logam Mulia - Emas Batangan (REUTERS/Alexander Manzyuk)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Harga emas turun ke level terendah dalam dua pekan pada perdagangan Selasa (14/7/2026), tertekan oleh lonjakan harga minyak akibat memanasnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran inflasi sekaligus memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga.

Baca Juga: Bitcoin Turun 33%, Ini 4 Indikator yang Menunjukkan Pasar Kripto Masih Lesu

Melansir Retuers, harga emas spot turun 0,2% menjadi US$ 3.993,83 per ons pada pukul 01.10 GMT, setelah anjlok sekitar 3% pada sesi sebelumnya. Penurunan itu menjadi yang terbesar dalam lebih dari satu bulan.

Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus bergerak relatif stabil di US$ 4.000,70 per ons.

Ketegangan geopolitik meningkat setelah militer AS melancarkan serangan terhadap Iran untuk malam ketiga berturut-turut.

Di saat yang sama, dua kapal tanker diserang di Selat Hormuz, menyusul keputusan Presiden AS Donald Trump yang kembali memberlakukan blokade terhadap pelayaran Iran di kawasan Teluk.

Konflik tersebut mendorong harga minyak melonjak ke level tertinggi sejak pertengahan Juni setelah sehari sebelumnya melesat sekitar 9%.

Kenaikan harga energi turut mengangkat imbal hasil obligasi pemerintah AS dan memperkuat dolar AS.

Baca Juga: Kondisi Bisnis Australia Stabil pada Juni 2026, Kepercayaan Pelaku Usaha Membaik

Pasar Menanti Data Inflasi AS

Pelaku pasar kini menantikan rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat untuk Juni yang dijadwalkan terbit pada Selasa. Data tersebut akan menjadi petunjuk terbaru mengenai arah inflasi dan kebijakan moneter The Fed.

Selain CPI, investor juga akan mencermati data Indeks Harga Produsen (PPI) serta kesaksian semesteran pertama Ketua The Fed Kevin Warsh di hadapan Kongres AS pada pekan ini.

Pada Senin, Gubernur The Fed Christopher Waller mengatakan bank sentral kemungkinan perlu menaikkan suku bunga dalam waktu dekat apabila data menunjukkan inflasi masih bertahan jauh di atas target 2%.

Waller menyebut kebijakan moneter saat ini berada di "persimpangan jalan", sehingga keputusan selanjutnya akan sangat bergantung pada perkembangan data ekonomi.

Seiring pernyataan tersebut, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga semakin meningkat.

Berdasarkan FedWatch Tool milik CME Group, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan September naik menjadi sekitar 78%, dari 57% sepekan sebelumnya.

Baca Juga: Bursa Asia Fluktuatif Selasa (14/7) Pagi, Ancaman Tarif Hormuz Trump Guncang Pasar

Logam Mulia Lainnya Juga Melemah

Di luar emas, harga logam mulia lainnya juga bergerak turun.

  • Perak spot turun 1,2% menjadi US$ 56,98 per ons, setelah sempat menyentuh level terendah dalam dua pekan.
  • Platinum melemah 1% menjadi US$ 1.589,35 per ons.
  • Palladium turun 0,4% menjadi US$ 1.242,54 per ons.

Sementara itu, Uni Eropa pada Senin mengumumkan sanksi baru terhadap Sudan dengan menargetkan perdagangan emas negara tersebut.

Uni Eropa menilai perdagangan emas digunakan untuk membiayai konflik militer yang masih berlangsung di Sudan.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×