kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.635.000   20.000   0,76%
  • USD/IDR 18.090   -20,00   -0,11%
  • IDX 6.068   28,32   0,47%
  • KOMPAS100 795   6,77   0,86%
  • LQ45 604   5,03   0,84%
  • ISSI 210   0,26   0,12%
  • IDX30 341   2,64   0,78%
  • IDXHIDIV20 425   3,10   0,74%
  • IDX80 91   0,70   0,77%
  • IDXV30 116   0,43   0,37%
  • IDXQ30 110   0,84   0,77%

Hajar Prancis 2-0, Spanyol Dekati Gelar Piala Dunia Kedua


Rabu, 15 Juli 2026 / 11:12 WIB
Hajar Prancis 2-0, Spanyol Dekati Gelar Piala Dunia Kedua
ILUSTRASI. Spanyol melaju ke final Piala Dunia setelah menundukkan Prancis 2-0. (REUTERS/Hannah McKay)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - ARLINGTON. Tim nasional Spanyol memastikan langkah ke final Piala Dunia setelah menundukkan Prancis dengan skor meyakinkan 2-0 pada laga semifinal yang berlangsung di Arlington, Texas, Selasa (14/7/2026). Kemenangan tersebut membawa La Furia Roja ke final Piala Dunia pertama mereka sejak terakhir kali mengangkat trofi pada 2010.

Sejak peluit awal dibunyikan, Spanyol tampil dominan dan terus menekan Prancis melalui penguasaan bola serta intensitas permainan yang tinggi. Tim asuhan Luis de la Fuente berhasil meredam lini serang Prancis yang sepanjang turnamen tampil produktif.

Gol kemenangan Spanyol dicetak oleh Mikel Oyarzabal dan Pedro Porro. Meski skor akhir hanya terpaut dua gol, dominasi juara Eropa itu terlihat jelas melalui penguasaan permainan, kontrol tempo, dan kemampuan mereka membatasi ruang gerak lini depan Les Bleus.

"Ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Sejujurnya, saya bahkan tidak pernah membayangkan hal seperti ini, bahkan dalam mimpi terliar saya," ujar Porro.

"Kami melakukan segalanya dengan benar melawan tim yang menjalani Piala Dunia dengan sangat baik," tambahnya.

Baca Juga: Harga Emas Berbalik Turun, Ketegangan Timur Tengah Dongkrak Minyak

Kemenangan tersebut membuat Spanyol hanya berjarak satu kemenangan lagi untuk menyempurnakan raihan gelar ganda Piala Dunia dan Piala Eropa.

Lawan Spanyol di partai final akan ditentukan pada Rabu (15/7/2026), saat Inggris menghadapi Argentina di Atlanta untuk memperebutkan tiket menuju laga puncak yang digelar akhir pekan ini.

Prancis Gagal Wujudkan Harapan di Hari Bastille

Di sisi lain, Prancis harus menerima kenyataan pahit setelah harapan mereka merayakan Hari Bastille dengan tiket final pupus. Kini, skuad Didier Deschamps hanya memiliki peluang memperebutkan posisi ketiga.

"Para pemain sangat terpukul, tetapi kami harus tetap berpikir jernih. Secara teknis, kami kalah," kata pelatih Prancis, Didier Deschamps.

"Itu adalah tanggung jawab kami. Kami kurang presisi secara teknis dan kekurangan energi. Spanyol sangat bagus dalam memutus serangan melalui pembacaan umpan dan intersep. Kami berharap bisa lebih merepotkan mereka dalam menyerang," terangnya.

Bagi Spanyol, peluang meraih gelar dunia kedua setelah penantian panjang sejak 2010 menjadi pertanda lahirnya generasi emas baru. Tim ini memang diperkuat talenta muda seperti Lamine Yamal, tetapi kekuatan utama mereka terletak pada kolektivitas dan keseimbangan permainan.

Atmosfer di Arlington dipenuhi antusiasme tinggi saat pembawa acara terkenal Bruce Buffer memperkenalkan kedua tim sebelum laga dimulai. Namun, pertandingan yang diprediksi berlangsung sengit justru berjalan timpang karena dominasi Spanyol.

Baca Juga: Menjelang Blokade AS, Kapal-Kapal Iran Padati Selat Hormuz

Prancis datang dengan reputasi sebagai tim dengan lini serang paling mematikan di turnamen. Namun, keunggulan tersebut tidak banyak berarti ketika Spanyol menguasai bola, menutup ruang, dan memaksa para penyerang lawan bermain tanpa suplai umpan.

"Salah satu faktor utama yang membawa kami ke final adalah kemampuan menjaga penguasaan bola," kata Porro.

"Ini adalah kemenangan untuk tim yang luar biasa, sekelompok pemain yang spektakuler—kemenangan bagi seluruh 26 pemain."

Permainan Kolektif Spanyol Lumpuhkan Les Bleus

Spanyol tampil dengan koordinasi dan pemahaman permainan layaknya klub elite Eropa. Pergerakan dan umpan-umpan mereka berjalan sangat mulus, sementara Prancis hanya mampu melepaskan dua tembakan tepat sasaran sepanjang pertandingan.

Kebuntuan akhirnya pecah pada menit ke-22. Marc Cucurella melepaskan umpan silang ke kotak penalti Prancis. Lucas Digne sempat mengontrol bola dengan dada, tetapi saat mencoba menyapu bola, ia melanggar Lamine Yamal. Wasit pun langsung menunjuk titik putih.

Oyarzabal yang maju sebagai eksekutor sukses menjalankan tugasnya dengan sempurna. Tendangan kerasnya ke sudut atas gawang tidak mampu dijangkau Mike Maignan.

Gol tersebut membuat Prancis, yang sebelumnya belum pernah tertinggal sepanjang turnamen, tampak kehilangan arah. Jeda minum yang berlangsung tak lama setelahnya memberi kesempatan bagi Deschamps untuk membenahi timnya, tetapi perubahan signifikan tak kunjung terjadi.

Michael Olise kesulitan mengembangkan permainan karena terus mendapat penjagaan ketat dari Cucurella. Pemain berusia 24 tahun itu kehilangan bola sebanyak 20 kali dan gagal melewati lawannya dalam duel satu lawan satu.

Baca Juga: Ekonomi China Tumbuh 4,3% pada Kuartal II-2026, di Bawah Ekspektasi

Ousmane Dembele juga gagal memberikan dampak berarti. Bradley Barcola maupun penggantinya, Desire Doue, sama-sama tampil kurang efektif. Bahkan Kylian Mbappe tidak mampu menunjukkan magi yang biasa ia tampilkan.

Spanyol kemudian menggandakan keunggulan menjelang satu jam pertandingan berjalan. Pedro Porro menyelesaikan kerja sama apik dengan Dani Olmo sebelum melepaskan tembakan mendatar yang bersarang di gawang Prancis.

"Kami tidak menampilkan permainan yang kami inginkan, baik secara taktik, teknis, maupun dari segi kualitas keseluruhan," kata Mbappe.

"Ketika Anda gagal melakukan apa yang seharusnya dilakukan dalam semifinal Piala Dunia, Anda tidak akan menang," terangnya.

"Spanyol tetap berpegang pada rencana dan keyakinan mereka. Ada kekurangan komunikasi dalam tekanan yang kami lakukan. Bahkan ketika kami berhasil merebut kembali bola, umpan pertama dan sentuhan pertama kami tidak pantas untuk sebuah semifinal Piala Dunia," tambahnya.

Saat peluit panjang berbunyi, para pemain Prancis tampak terpukul. Sebaliknya, skuad Spanyol merayakan kemenangan di bawah atap tertutup stadion, menyadari bahwa mereka kini hanya membutuhkan satu kemenangan lagi untuk merebut gelar Piala Dunia kedua sekaligus menegaskan lahirnya generasi emas baru sepak bola Spanyol.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×