Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Harga emas tetap tertahan datar pada hari ini, saat para investor mencermati ketegangan di Timur Tengah dan menantikan data pasar tenaga kerja AS yang penting pada minggu ini, yang dapat membentuk ekspektasi terhadap kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).
Selasa (1/9/2026) pukul 10.00 WIB, harga emas di pasar spot turun 0,3% menjadi US$ 4.437,10 per ons troi, setelah sempat menyentuh level terendah sejak 19 Agustus pada sesi sebelumnya.
Sementara itu, harga emas berjangka untuk kontrak pengiriman Desember 2026 naik tipis 0,1% menjadi US$ 4.485,3 per ons troi.
Data penting AS minggu ini mencakup data lowongan pekerjaan, laporan ketenagakerjaan ADP, dan data nonfarm payrolls, yang akan dicermati untuk mendapatkan petunjuk mengenai kondisi pasar tenaga kerja dan prospek suku bunga.
Baca Juga: Manufaktur Thailand Bertahan Ekspansif, Optimisme Pebisnis Capai Level Tertinggi
Harga emas spot sempat mencapai level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan pada pekan lalu, sebelum anjlok lebih dari 3% pada hari Jumat (28/8/2026), setelah Ketua Kevin Warsh menyatakan bahwa The Fed "memiliki pekerjaan yang harus dilakukan" jika para pembuat kebijakan tidak mendapatkan keyakinan yang diperlukan bahwa inflasi sedang bergerak turun menuju 2%.
Harga emas berada di bawah tekanan akibat pidato bernada hawkish Ketua The Fed, Warsh, di Jackson Hole. Emas makin tertekan dengan ketegangan baru di Selat Hormuz yang memicu kenaikan harga minyak dan meningkatkan ekspektasi inflasi, kata analis pasar IG, Tony Sycamore.
"Satu kali kenaikan suku bunga saja seharusnya tidak menjadi faktor penentu arah (game changer) bagi emas. Namun, dua atau tiga kali kenaikan mungkin bisa berdampak demikian," tambahnya.
Saat ini, para pedagang melihat adanya peluang sebesar 66% untuk kenaikan suku bunga AS pada bulan September dan probabilitas 89% pada bulan Desember, menurut CME FedWatch Tool. Meskipun emas dianggap sebagai sarana lindung nilai terhadap inflasi, suku bunga yang lebih tinggi biasanya menekan harga logam tersebut karena meningkatkan daya tarik aset yang memberikan imbal hasil.
Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada para wartawan di Ruang Oval bahwa ia sangat menghormati Warsh dan bahwa Warsh "akan melakukan apa yang perlu dilakukan" terkait suku bunga.
Baca Juga: Sektor Manufaktur Filipina Melaju, PMI Mencapai Rekor Tertinggi Sejak 2016
Sementara itu, Trump mengancam akan melancarkan serangan lanjutan terhadap Iran pada hari Senin setelah terjadinya aksi saling serang langsung pertama dalam sebulan terakhir, sehingga meningkatkan ketegangan dalam konflik yang sebelumnya sempat beralih menjadi kebuntuan ekonomi. Harga minyak naik untuk sesi kedua berturut-turut.
Di antara logam lainnya, harga perak di pasar spot naik 0,3% menjadi US$ 66,34 per ons troi, platinum naik tipis 0,1% ke US$ 1.793,03 dan harga paladium tidak berubah di angka US$ 1.356,75.














