kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.992.000   -5.000   -0,17%
  • USD/IDR 17.008   36,00   0,21%
  • IDX 7.022   -114,92   -1,61%
  • KOMPAS100 967   -21,57   -2,18%
  • LQ45 714   -14,61   -2,01%
  • ISSI 244   -4,92   -1,97%
  • IDX30 388   -4,33   -1,10%
  • IDXHIDIV20 485   -2,12   -0,43%
  • IDX80 109   -2,57   -2,31%
  • IDXV30 132   0,44   0,33%
  • IDXQ30 126   -0,69   -0,54%

Harga Emas Melemah, Kekhawatiran Inflasi Akibat Konflik Timur Tengah Tekan Pasar


Selasa, 17 Maret 2026 / 05:05 WIB
Harga Emas Melemah, Kekhawatiran Inflasi Akibat Konflik Timur Tengah Tekan Pasar
ILUSTRASI. Harga emas (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Harga emas dunia melemah pada perdagangan Senin (16/3/2026), seiring meningkatnya kekhawatiran bahwa lonjakan inflasi akibat konflik di Timur Tengah dapat membuat suku bunga tetap tinggi lebih lama.

Melansir Reuters, harga emas spot turun 0,5% menjadi US$ 4.993,42 per ons troi pada pukul 13.31 ET (17.31 GMT). Logam mulia ini bahkan sempat menyentuh level terendah sejak 19 Februari di awal sesi perdagangan.

Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman April ditutup turun 1,2% di level US$ 5.002,20 per ons.

Baca Juga: Jalur Hormuz Kembali Normal: Dampak Besar Bagi Pasar Energi Global

Penurunan harga emas terjadi meskipun dolar AS melemah dari posisi puncak 10 bulan.

Melemahnya dolar biasanya membuat emas yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain.

Menurut Bob Haberkorn, Senior Market Strategist di RJO Futures, kenaikan harga energi dapat memicu inflasi yang lebih tinggi dan berpotensi menahan bank sentral untuk memangkas suku bunga.

“Jika harga minyak lebih tinggi, inflasi juga meningkat. Dalam kondisi tersebut, bank sentral tidak akan seagresif enam bulan lalu dalam menurunkan suku bunga, dan itu menjadi sentimen negatif bagi emas,” ujarnya.

Meski demikian, ia tetap optimistis terhadap prospek emas dalam jangka panjang. Haberkorn bahkan memperkirakan harga emas berpotensi menembus US$ 6.000 per ons troi, mengingat tingginya ketidakpastian global.

Baca Juga: Chelsea Kena Denda Rp 215 Miliar, Lolos Pengurangan Poin? Ini Sebabnya

Sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian, emas biasanya berkinerja kurang baik ketika suku bunga tinggi.

Hal ini karena biaya peluang untuk memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil menjadi lebih besar.

Dari sisi geopolitik, konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang kini memasuki pekan ketiga juga masih membayangi pasar energi global.

Penutupan Selat Hormuz, jalur penting yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia, turut memicu lonjakan harga energi.

Meski harga minyak sempat turun pada Senin, komoditas tersebut masih naik lebih dari 60% sepanjang tahun ini.

Baca Juga: Kerugian VinFast Naik 46,5% di Kuartal IV-2025, Pabrik Amerika Serikat Jadi Beban

Pelaku pasar juga mencermati sejumlah agenda penting pekan ini, termasuk rilis data Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat, keputusan kebijakan moneter Federal Reserve, pidato Ketua The Fed Jerome Powell, serta data klaim pengangguran mingguan.

Pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya dalam pertemuan yang berlangsung pada Selasa hingga Rabu.

Selain itu, bank sentral AS juga tengah bersiap menghadapi transisi kepemimpinan baru setelah Kevin Warsh dinominasikan oleh Presiden Donald Trump.

Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot relatif stabil di US$ 80,52 per ons troi. Sementara itu, platinum melonjak 3,9% menjadi US$ 2.103,42 per ons troi dan palladium naik 3,1% ke level US$ 1.598,80 per ons troi.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×