Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - HANOI. Produsen kendaraan listrik asal Vietnam, VinFast, pada Senin (16/3/2026) melaporkan bahwa rugi bersih perusahaan pada kuartal keempat 2025 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan kerugian ini terjadi seiring naiknya biaya penurunan nilai (impairment) yang berkaitan dengan proyek pabrik perusahaan di Amerika Serikat, yang rencananya akan kembali dilanjutkan pembangunannya tahun ini.
VinFast mencatat rugi bersih sebesar 35,2 triliun dong Vietnam (sekitar US$ 1,34 miliar) pada kuartal terakhir 2025. Angka tersebut 46,5% lebih besar dibandingkan periode yang sama pada 2024 dan 15% lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya.
Penyesuaian nilai buku untuk proyek pabrik yang direncanakan di North Carolina, Amerika Serikat, menyumbang sekitar US$ 235,6 juta terhadap total kerugian tersebut.
Baca Juga: Meta Siapkan PHK Besar hingga 20% Karyawan demi Tekan Biaya AI
Ketua VinFast, Thuy Le, dalam paparan kepada investor mengatakan bahwa perusahaan tetap berkomitmen terhadap pasar Amerika Serikat.“Kami tetap berkomitmen pada pasar AS dan terus bekerja di balik layar untuk mewujudkannya,” kata Thuy Le. Ia menambahkan perusahaan menargetkan peluncuran awal (soft launch) pada 2028.
VinFast sebelumnya menunda pembangunan pabrik tersebut pada 2024 dengan alasan ketidakpastian pasar kendaraan listrik. Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah pemerintah di berbagai negara juga mulai mengurangi kebijakan insentif pembelian kendaraan listrik, seiring melemahnya permintaan akibat tekanan ekonomi.
Meskipun pasar global menghadapi tantangan, permintaan kendaraan listrik VinFast tetap kuat di Vietnam. Sekitar 80% dari total 86.557 unit kendaraan listrik yang dikirimkan pada kuartal keempat berasal dari pasar domestik.
Jumlah tersebut meningkat 127% dibandingkan kuartal ketiga dan 63% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pengiriman kendaraan roda dua juga mengalami lonjakan signifikan, naik lebih dari 450% secara tahunan menjadi hampir 172.000 unit. Peningkatan ini didorong oleh kebijakan pemerintah Hanoi yang melarang sepeda motor berbahan bakar bensin di pusat kota mulai pertengahan tahun ini.
VinFast menargetkan pengiriman setidaknya 300.000 kendaraan listrik secara global pada tahun ini. Perusahaan juga berencana memperluas bisnis kendaraan roda dua hingga 2,5 kali lipat dibandingkan volume tahun 2025.
Beberapa pasar yang menjadi sasaran ekspansi meliputi India, Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina.
Selain itu, VinFast berencana meluncurkan kendaraan listrik dengan penambah jarak tempuh alias range-extended electric vehicles (REEV) di Vietnam pada 2027. Kendaraan ini dilengkapi mesin bensin kecil yang berfungsi mengisi ulang baterai, dan dianggap sebagai solusi transisi bagi wilayah yang infrastruktur pengisian dayanya masih terbatas.
“Kami melihat teknologi range extender sebagai spesifikasi sementara yang praktis dalam transisi dari mesin pembakaran internal menuju kendaraan listrik berbasis baterai penuh,” ujar Anne Pham, eksekutif senior VinFast.
VinFast juga meluncurkan program pengisian daya gratis pada Desember 2024. Program tersebut meningkatkan biaya operasional perusahaan, namun dinilai efektif dalam mendorong penjualan.
Baca Juga: JP Morgan Ikut Beri Pendanaan US$ 5,75 Miliar Untuk Akuisisi Electronics Arts
“Program ini sangat diapresiasi oleh pelanggan, bahkan oleh para dealer. Ini menjadi salah satu cara terbaik untuk meyakinkan masyarakat beralih ke kendaraan listrik,” kata Thuy Le kepada Reuters.
Program ini menurut dia memang mahal, tetapi pada saat yang sama merupakan investasi yang baik.
Secara keseluruhan, pendapatan VinFast sepanjang 2025 meningkat 105% menjadi 3,6 miliar dolar AS. Perusahaan yang merupakan anak usaha konglomerat Vingroup tersebut menargetkan mencapai titik impas pada akhir tahun ini.
Namun demikian, analis dari Third Bridge, Ollie Coughlin, menilai tingkat pembakaran kas (cash burn) VinFast yang tinggi masih menimbulkan pertanyaan mengenai kemampuan perusahaan membiayai kebutuhan belanja modal alias capital expenditure expenditure (Capex) di masa depan, meskipun mendapat dukungan dari Vingroup.













