Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga emas bergerak naik tipis pada perdagangan Rabu (15/7/2026) setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih rendah dari perkiraan meredakan kekhawatiran akan kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat.
Namun, meningkatnya konflik di kawasan Teluk yang mendorong lonjakan harga minyak membuat investor tetap berhati-hati terhadap prospek kebijakan suku bunga, sehingga membatasi kenaikan logam mulia tersebut.
Baca Juga: Ringgit dan Rupiah Memimpin Penguatan Mata Uang Asia terhadap Dolar AS
Melansir Reuters, hingga pukul 01.08 GMT, harga emas spot naik 0,1% menjadi US$ 4.056,69 per ons troi.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus justru turun tipis 0,1% ke level US$ 4.063,80 per ons troi.
Pada perdagangan Selasa, harga emas melonjak lebih dari 2% setelah bangkit dari level terendah dalam dua pekan.
Kenaikan tersebut dipicu data yang menunjukkan inflasi konsumen AS melambat lebih besar dari perkiraan pada Juni seiring turunnya harga energi.
Meski demikian, perlambatan inflasi belum cukup untuk menghapus sepenuhnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed tahun ini.
Ketegangan baru di Timur Tengah memicu kekhawatiran kenaikan harga energi yang berpotensi kembali mendorong inflasi.
Baca Juga: Korea Selatan Kejar Status Developed Markets MSCI, Target Rampung 2027
Harga minyak sendiri telah naik selama tiga sesi berturut-turut setelah Presiden AS Donald Trump kembali memberlakukan blokade laut terhadap seluruh pelabuhan Iran dan mengancam akan menyerang pembangkit listrik serta jembatan jika Teheran tidak kembali ke meja perundingan.
Sejumlah pejabat senior The Fed menyambut positif data inflasi yang lebih rendah, tetapi menegaskan masih membutuhkan lebih banyak bukti bahwa tekanan harga benar-benar mereda sebelum mempertimbangkan perubahan kebijakan.
Pelaku pasar kini menantikan rilis Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) AS untuk memperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai arah inflasi.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed September turun menjadi sekitar 58%, dari sebelumnya 76% sebelum data inflasi dirilis.
Selain itu, investor juga mencermati data pertumbuhan ekonomi kuartal II China. Perlambatan ekonomi negara konsumen emas terbesar di dunia itu dikhawatirkan dapat mengurangi permintaan terhadap logam mulia.
Baca Juga: Investasi Properti China Anjlok 18% Semester I 2025, Penjualan Rumah Terus Melemah
Di sisi pasokan, Ghana Gold Board menyatakan produksi emas dari tambang rakyat diperkirakan mampu menyamai atau bahkan melampaui rekor tahun lalu.
Sementara itu, Afrika Selatan melaporkan produksi sektor pertambangan turun 5,4% secara tahunan pada Mei.
Untuk logam mulia lainnya, harga perak spot naik 0,4% menjadi US$ 58,86 per ons troi.
Harga platinum menguat 0,3% ke level US$ 1.636,28 per ons troi, sedangkan paladium turun tipis 0,1% menjadi US$ 1.304,10 per ons troi.
Di sisi lain, Citi Research mempertahankan target harga platinum untuk jangka waktu nol hingga tiga bulan di level US$ 1.950 per ons, sementara target harga paladium tetap di US$ 1.500 per ons.














