Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - BENGALURU. Harga minyak melemah ke level yang terakhir terlihat sebelum dimulainya perang Iran-Amerika Serikat (AS) karena ekspektasi peningkatan pasokan dari Timur Tengah lebih besar daripada kekhawatiran akan permintaan.
Kamis (25/6/2026) pukul 16.00 WIB, harga minyak mentah berjangka untuk kontrak pengiriman Agustus 2026 melemah US$ 1,28, atau 1,74% menjadi US$ 72,46 per barel.
Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Agustus 2026 turun US$ 1,15 atau 1,63% ke US$ 69,19 per barel.
Kedua kontrak tersebut mencapai titik terendah sejak 27 Februari.
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan kepada forum bahwa aliran melalui Selat Hormuz hampir sama dengan sebelum dimulainya perang Iran, dengan setidaknya 20 juta barel telah keluar dari selat dalam 24 jam terakhir.
Baca Juga: Inovasi Ubah Produsen Lemak Susu Swiss Jadi Produsen Tinta Pengaman Uang
Namun, pemulihan ke kondisi normal sepenuhnya akan memakan waktu beberapa minggu, karena selat tersebut perlu dibersihkan dari ranjau, tambahnya.
"Sebagian besar peningkatan arus dari Teluk adalah arus keluar—kapal-kapal yang keluar dari Selat," kata analis UBS, Giovanni Staunovo.
Namun, peningkatan signifikan dalam arus masuk membutuhkan kembalinya kepercayaan pelayaran, termasuk jaminan keselamatan dan pembersihan ranjau agar premi asuransi dapat kembali normal, kata Staunovo.
Meningkatnya pasokan dari Timur Tengah, bersamaan dengan Iran yang akan meningkatkan penjualan setelah penangguhan sementara sanksi AS, telah menurunkan harga kargo minyak mentah fisik di seluruh dunia.
Goldman Sachs mengatakan, tidak mengharapkan peningkatan besar dalam produksi Iran, bahkan jika penangguhan sanksi diperpanjang setelah berakhirnya tanggal 21 Agustus.
Dari sisi permintaan, "China kemungkinan akan tetap menjadi pembeli utama minyak mentah Iran, karena sanksi Uni Eropa dan Inggris terhadap minyak dan kapal Iran tetap berlaku," tambah bank tersebut.
Kesepakatan yang disetujui pekan lalu untuk mengakhiri perang AS-Israel, yang dimulai pada 28 Februari, telah memungkinkan dimulainya kembali lalu lintas melalui selat tersebut.
Kesepakatan itu menetapkan periode negosiasi selama 60 hari untuk menangani isu-isu yang lebih sulit, seperti program nuklir Iran. Wright mengatakan minyak akan terus mengalir melalui selat tersebut bahkan jika kesepakatan itu tidak berlaku, dan bahwa Iran tidak akan dapat menutupnya lagi.
Oman membuka rute sementara pada hari Rabu untuk mempermudah keberangkatan kapal tanker dari selat tersebut, dengan Organisasi Maritim Internasional dan otoritas Oman mengoordinasikan pergerakan.
Baca Juga: Amazon Tambah Investasi US$ 13 Miliar di India: Kembangkan Cloud dan AI
Sementara itu, Irak harus mempertimbangkan semua opsi jika kuota OPEC-nya tidak ditingkatkan secara signifikan, kata seorang pejabat senior kementerian perminyakan Irak kepada Reuters pada hari Kamis.
Prospek Irak mempertimbangkan keluar dari OPEC mengikuti keluarnya Uni Emirat Arab secara mengejutkan tahun ini. Irak adalah salah satu dari lima anggota pendiri dan kelompok tersebut dibentuk di ibu kota Irak.














