Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia merosot sekitar 2% pada Selasa (17/2/2026), menyentuh level terendah dalam dua pekan terakhir. Penurunan terjadi di tengah harapan meredanya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran setelah muncul sinyal kemajuan dalam perundingan nuklir kedua negara.
Melansir Reuters, minyak mentah Brent turun US$1,23 atau 1,8% dan ditutup di US$67,42 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 56 sen atau 0,9% ke US$62,33 per barel.
Baca Juga: Pengangguran Inggris Sentuh 5,2% Akhir 2025, Peluang Pemangkasan Suku Bunga Meningkat
Penutupan tersebut menjadi yang terendah bagi Brent sejak 3 Februari dan bagi WTI sejak 2 Februari.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menyatakan bahwa Iran dan AS telah mencapai kesepahaman mengenai “prinsip-prinsip panduan” utama dalam putaran kedua pembicaraan tidak langsung di Jenewa terkait sengketa nuklir.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa hal itu tidak berarti kesepakatan final akan segera tercapai.
Ketegangan Masih Membayangi
Pembicaraan berlangsung di tengah peningkatan kehadiran militer AS di Timur Tengah.
Pemimpin tertinggi Iran juga menegaskan bahwa setiap upaya Washington untuk menggulingkan pemerintahannya akan gagal.
Baca Juga: Warner Bros Beri Waktu 7 Hari Bagi Paramount untuk Beri Tawaran Baru yang Lebih Oke
Secara terpisah, media pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran sempat menutup Selat Hormuz selama beberapa jam pada Selasa, meski belum jelas apakah jalur pelayaran vital tersebut telah sepenuhnya dibuka kembali.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur ekspor minyak terpenting di dunia. Sekitar seperlima konsumsi minyak global melewati perairan yang terletak di antara Oman dan Iran tersebut. Gangguan di kawasan ini berisiko besar terhadap pasokan energi global.
Iran bersama anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) lainnya seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak menyalurkan sebagian besar ekspor minyak mentah mereka melalui selat tersebut, terutama ke pasar Asia.
Berdasarkan data U.S. Energy Information Administration, pada 2025 Iran menjadi produsen minyak mentah terbesar ketiga di OPEC setelah Arab Saudi dan Irak.
Baca Juga: Iran Tutup Sebagian Selat Hormuz Saat Pembicaraan Nuklir dengan AS Berlangsung
Faktor Tambahan Tekan Harga
Tekanan terhadap harga minyak juga datang dari sisi pasokan. Produksi di ladang minyak raksasa Tengiz di Kazakhstan dilaporkan mulai meningkat secara bertahap setelah sempat mengalami gangguan pada Januari, menurut kantor berita Rusia Interfax.
Di sisi lain, perkembangan pembicaraan damai Rusia-Ukraina turut menjadi perhatian pasar. Negosiator dari kedua negara menyelesaikan hari pertama dari dua hari perundingan damai yang dimediasi AS di Jenewa.
Presiden Donald Trump dilaporkan mendesak Kyiv untuk segera mencapai kesepakatan guna mengakhiri konflik yang telah berlangsung empat tahun.
Jika tercapai resolusi damai, sanksi terhadap Rusia berpotensi dilonggarkan, membuka jalan bagi kembalinya minyak Rusia ke pasar global secara lebih luas.
Baca Juga: Negara-Negara Eropa Mendorong Perluasan Penggunaan Euro di Tingkat Global
Pada 2025, Rusia tercatat sebagai produsen minyak mentah terbesar ketiga di dunia setelah AS dan Arab Saudi, menurut data EIA.
Meski demikian, ketegangan belum sepenuhnya mereda. Militer Ukraina mengklaim telah menyerang kilang minyak Ilsky di Rusia dan terjadi serangan drone di pelabuhan Taman.
Analis menilai, harga minyak akan tetap bergerak volatil dalam waktu dekat, dengan fluktuasi tajam yang lebih banyak dipicu sinyal diplomatik ketimbang faktor fundamental permintaan dan pasokan semata.













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)