Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan Senin (2/3/2026), dipicu gangguan pengiriman di Strait of Hormuz setelah serangan balasan Iran menyusul pemboman akhir pekan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Lonjakan harga yang berkelanjutan berisiko menghambat pemulihan ekonomi global, memicu inflasi, serta mendorong kenaikan harga bensin ritel di AS situasi yang sensitif bagi Presiden Donald Trump menjelang pemilu sela pada November.
Baca Juga: Konflik Iran Memanas: 1 Warga China Tewas, 3.000 Dievakuasi Usai Serangan AS-Israel
Melansir Reuters, minyak mentah Brent sempat melonjak hingga 13% ke US$82,37 per barel tertinggi sejak Januari 2025 sebelum memangkas kenaikan dan diperdagangkan naik sekitar 8,2% ke US$78,87 per barel pada pukul 09.19 GMT.
Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) menyentuh level intraday US$75,33 (naik lebih dari 12%, tertinggi sejak Juni) sebelum terkoreksi dan terakhir naik 7,7% ke US$72,17 per barel.
Meski lonjakannya signifikan, kenaikan ini lebih rendah dibandingkan sejumlah prediksi analis yang memperkirakan harga bisa langsung melampaui US$90 bahkan mendekati US$100 per barel saat pembukaan pasar.
Baca Juga: Perang Iran vs AS-Israel Rugikan Aktivitas Perusahaan Keuangan di Timur Tengah
Gangguan Jalur Vital Energi
Eskalasi saling serang merusak kapal tanker dan mengganggu pengiriman melalui Selat Hormuz jalur penting yang menghubungkan Teluk Persia ke Laut Arab.
Dalam kondisi normal, sekitar seperlima permintaan minyak global melewati jalur ini setiap hari, termasuk pasokan dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, Iran, dan Kuwait menuju pasar utama Asia seperti China dan India.
Data pelayaran menunjukkan lebih dari 200 kapal, termasuk tanker minyak dan LNG, sempat berlabuh di luar selat tersebut.
Tiga kapal tanker dilaporkan rusak dan satu awak kapal tewas dalam serangan di perairan Teluk.
Baca Juga: Saudi Aramco Tutup Kilang Ras Tanura Setelah Serangan Drone
Pasar Mulai Mencerna Risiko
Setelah lonjakan tajam di awal sesi Asia, harga mulai memangkas kenaikan karena pelaku pasar menilai sebagian premi risiko geopolitik sudah tercermin dalam harga.
Sejauh tahun ini hingga penutupan Jumat, Brent telah naik lebih dari 19%, sementara WTI menguat sekitar 17%.
Aliansi produsen OPEC+ pada Minggu menyepakati kenaikan produksi 206.000 barel per hari untuk April. Namun, sebagian besar produsen dinilai telah berproduksi mendekati kapasitas maksimum, kecuali Arab Saudi.
Direktur International Energy Agency Fatih Birol mengatakan, lembaganya berkomunikasi dengan produsen utama Timur Tengah dan siap mengoordinasikan pelepasan cadangan minyak strategis jika diperlukan.
Baca Juga: Serangan AS-Israel ke Iran Dinilai Perkuat Ambisi Nuklir Kim Jong Un
Menurut analis Goldman Sachs, persediaan minyak global yang terlihat saat ini mencapai 7,827 miliar barel, setara sekitar 74 hari permintaan mendekati median historis.
Sementara itu, Citi memperkirakan Brent akan bergerak di kisaran US$80–US$90 per barel pekan ini, dengan asumsi konflik mereda dalam satu hingga dua minggu.
Di pasar domestik AS, harga bensin berjangka melonjak hingga 9,1% ke US$2,496 per galon—tertinggi sejak Juli 2024—sebelum memangkas kenaikan menjadi sekitar 4,3%.
Analis memperingatkan harga bensin ritel berpotensi menembus US$3 per galon jika konflik berkepanjangan.
Dengan ketidakpastian yang masih tinggi terkait durasi dan skala konflik, volatilitas harga energi diperkirakan tetap berlanjut dalam waktu dekat.













