kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.799.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.859   -41,00   -0,23%
  • IDX 6.127   -2,81   -0,05%
  • KOMPAS100 807   -1,47   -0,18%
  • LQ45 611   -9,23   -1,49%
  • ISSI 216   0,35   0,16%
  • IDX30 348   -6,56   -1,85%
  • IDXHIDIV20 426   -11,92   -2,72%
  • IDX80 93   -0,89   -0,95%
  • IDXV30 118   -2,46   -2,04%
  • IDXQ30 112   -2,96   -2,59%

Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari 3% di Tengah Memanasnya Konflik AS-Iran


Senin, 01 Juni 2026 / 15:20 WIB
Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari 3% di Tengah Memanasnya Konflik AS-Iran
ILUSTRASI. Konflik di Timur Tengah kembali memanas, mendorong harga minyak global naik tajam. Cari tahu dampaknya pada pasar energi Anda. (REUTERS/Eli Hartman)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak dunia melonjak lebih dari 3% pada perdagangan Senin (1/6/2026) setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran saling melancarkan serangan, sementara Israel memerintahkan pasukannya untuk bergerak lebih jauh ke wilayah Lebanon dalam konflik melawan kelompok Hezbollah yang didukung Teheran.

Kontrak berjangka minyak mentah AS (West Texas Intermediate/WTI) naik US$ 2,88 atau 3,3% menjadi US$ 90,24 per barel pada pukul 07.01 GMT. Sementara itu, minyak mentah Brent menguat US$ 2,78 atau 3,05% menjadi US$ 93,90 per barel.

Kenaikan harga terjadi setelah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang meredupkan harapan pasar terhadap kemungkinan perpanjangan gencatan senjata antara AS dan Iran dalam waktu dekat.

Sebelumnya, pada Jumat (29/5/2026), Washington menjadi tuan rumah perundingan perdamaian antara Israel dan Lebanon. Optimisme atas kemungkinan perpanjangan gencatan senjata sempat menekan harga minyak, membuat Brent dan WTI masing-masing ditutup turun 1,8% dan 1,7%.

Namun situasi berubah setelah AS pada Minggu (31/5/2026) menyatakan telah melakukan "serangan untuk membela diri" terhadap fasilitas radar dan lokasi pengendalian drone Iran di Goruk dan Pulau Qeshm pada akhir pekan. Washington menyebut langkah tersebut sebagai respons atas tindakan "agresif" yang dilakukan Teheran.

Baca Juga: Jerome Powell Peringatkan Bahaya Intervensi Politik terhadap The Fed

Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Senin mengumumkan bahwa unit kedirgantaraannya telah menargetkan sebuah pangkalan udara yang digunakan dalam serangan AS terhadap menara telekomunikasi di Pulau Sirik.

Nasib Gencatan Senjata Masih Menggantung

Presiden AS Donald Trump pada Jumat mengatakan bahwa dirinya akan segera mengambil keputusan terkait proposal perpanjangan gencatan senjata yang diumumkan pada awal April lalu.

Perpanjangan tersebut diharapkan memberikan lebih banyak waktu bagi para perunding untuk mencari solusi permanen guna mengakhiri konflik sekaligus menyelesaikan sengketa terkait program nuklir Iran.

Israel diperkirakan akan memainkan peran penting dalam setiap kesepakatan yang tercapai. Di sisi lain, Iran berulang kali menegaskan bahwa Hezbollah harus dilibatkan dalam proses tersebut.

Seorang pejabat AS pada Minggu mengungkapkan bahwa Washington telah mengusulkan rencana "de-eskalasi bertahap", di mana Hezbollah akan menghentikan serangan terhadap Israel sebagai imbalan atas komitmen Israel untuk tidak meningkatkan operasi militernya di Beirut.

Baca Juga: AS Tutup Celah Ekspor Chip AI Nvidia ke Perusahaan China di Luar Negeri

Kekhawatiran Selat Hormuz Dorong Harga Minyak

Analis pasar dari IG, Tony Sycamore, mengatakan bahwa kekhawatiran terkait keberadaan ranjau laut di Selat Hormuz terus meningkat.

Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi memperlambat proses pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut dan menyebabkan pasokan minyak global tidak segera pulih meskipun selat tersebut nantinya kembali dibuka.

"Bahkan jika kesepakatan tercapai, hal itu tidak akan langsung menghasilkan lonjakan besar pasokan minyak," ujar Sycamore.

Seorang reporter Axios pada Jumat melaporkan melalui platform X bahwa Iran telah menempatkan lebih banyak ranjau di Selat Hormuz pada awal pekan lalu. Langkah itu terjadi tak lama setelah Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan bahwa upaya penempatan ranjau tambahan akan dianggap sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata.

Selat Hormuz merupakan jalur transit yang menyalurkan sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia. Iran secara efektif menutup jalur tersebut sejak konflik dimulai akibat serangan AS dan Israel pada 28 Februari lalu.

Baca Juga: Netanyahu Perintahkan Pasukan Israel Perluas Operasi Darat di Lebanon

Data Ekonomi China Tak Mampu Menekan Harga

Kekhawatiran terhadap pasokan minyak global mengalahkan sentimen negatif dari data ekonomi China yang dirilis akhir pekan.

Data tersebut menunjukkan aktivitas manufaktur China mengalami stagnasi, memperkuat kekhawatiran bahwa ekonomi terbesar kedua dunia itu mulai kehilangan momentum pertumbuhan akibat kontraksi ekspor dan tekanan biaya yang terus meningkat.

Di sisi lain, Goldman Sachs pada Minggu memperingatkan bahwa lemahnya permintaan minyak di China dan Eropa menjadi risiko utama terhadap proyeksi harga minyak Brent pada kuartal IV yang berada di level US$ 90 per barel dan WTI sebesar US$ 83 per barel.

Meskipun demikian, bank investasi tersebut menilai gangguan pasokan dari Timur Tengah masih berpotensi mendorong harga minyak bergerak lebih tinggi dalam beberapa bulan mendatang.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×