kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.650.000   17.000   0,65%
  • USD/IDR 18.087   -43,00   -0,24%
  • IDX 5.924   11,92   0,20%
  • KOMPAS100 771   1,79   0,23%
  • LQ45 589   1,88   0,32%
  • ISSI 204   0,51   0,25%
  • IDX30 334   0,92   0,28%
  • IDXHIDIV20 413   1,96   0,48%
  • IDX80 88   0,34   0,39%
  • IDXV30 112   1,14   1,02%
  • IDXQ30 107   0,13   0,12%

Harga Minyak Menguat, Pasar Cemas Gangguan Pasokan di Timur Tengah Berlanjut


Jumat, 10 Juli 2026 / 20:01 WIB
 Harga Minyak Menguat, Pasar Cemas Gangguan Pasokan di Timur Tengah Berlanjut
ILUSTRASI. Harga Minyak (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - LONDON. Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Jumat (10/7/2026) dan menuju kenaikan mingguan signifikan, seiring eskalasi konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran yang kembali memicu gangguan pengiriman lewat Selat Hormuz, jalur vital bagi pasokan energi global.

Minyak Brent naik 24 sen atau 0,3% ke level US$ 76,54 per barel pada pukul 12.24 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 9 sen atau 0,1% menjadi US$ 72,17 per barel.

Sepanjang pekan ini, Brent diperkirakan menguat sekitar 6%, sedangkan WTI naik sekitar 5%.

“Masih ada premi risiko yang besar karena transit melalui Hormuz kembali nyaris terhenti, tanpa tanda jelas kapan jalur itu bisa dibuka normal lagi,” kata analis pasar minyak Vanda Insights, Vandana Hari.

Baca Juga: Harga Minyak Naik, Pasar Cermati Risiko Pasokan di Tengah Ketegangan AS-Iran

Kenaikan harga minyak mendapat dukungan dari memburuknya situasi keamanan di kawasan.

Pasukan Iran pada Kamis menyerang infrastruktur militer AS di negara-negara Teluk setelah serangan balasan AS ke provinsi selatan dan timur Iran. Langkah itu kembali menekan gencatan senjata yang sebelumnya sudah rapuh.

Meski demikian, harga sempat memangkas kenaikan setelah Reuters melaporkan bahwa para negosiator Qatar sedang berada di Iran untuk bertemu pejabat setempat.

Upaya itu dilakukan untuk meredakan ketegangan dan membuka jalan bagi pembicaraan yang lebih luas.

Media Iran juga melaporkan sejumlah ledakan di berbagai wilayah selatan negara itu, termasuk Bushehr, lokasi salah satu fasilitas nuklir Iran.

Ketegangan terbaru antara AS dan Iran juga dinilai bisa mengganggu proyeksi surplus besar pasar minyak tahun depan yang sebelumnya diperkirakan International Energy Agency (IEA). IEA menilai eskalasi konflik ini mengubah arah perkiraan pasokan global.

Baca Juga: Harga Minyak Brent Tembus ke US$ 112, Timur Tengah Kembali Bergejolak

Situasi tersebut turut menunda pembukaan penuh kembali Selat Hormuz, jalur yang sebelum perang meletus pada 28 Februari lalu dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas harian dunia.

Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan, tidak adanya serangan baru AS ke Iran semalam ikut menahan laju harga minyak. Namun, penurunan arus pengiriman melalui Selat Hormuz membatasi potensi pelemahan harga.

Data pelacakan kapal menunjukkan kapal-kapal gas alam cair (LNG) masih melintas di Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir, tetapi trafik harian secara keseluruhan melambat.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengatakan pekan ini bahwa ia tidak yakin perang akan dimulai lagi dan menyebut segala yang terjadi kemungkinan akan berakhir sangat cepat.

Baca Juga: Harga Minyak Melonjak, Pasar Tetap Cemas Meski AS Longgarkan Akses Minyak Rusia

“Meski AS meningkatkan serangan ke situs militer di Iran, pasar mendapat sedikit rasa aman dari keputusan pemerintahan Trump untuk tidak menyasar infrastruktur energi Iran,” kata analis komoditas ANZ, Daniel Hynes.

Selain isu Timur Tengah, IEA juga memangkas proyeksi produksi minyak Rusia karena serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi negara tersebut.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×