Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - LONDON. Harga minyak melonjak hampir 2% pada Senin (10/8/2026) setelah Iran menegaskan bahwa Amerika Serikat harus memenuhi beberapa tuntutan sebelum Selat Hormuz dapat dibuka kembali.
Mengutip Reuters, kontrak berjangka minyak mentah Brent naik US$ 1,40, atau 1,7%, menjadi US$ 84,95 per barel pada pukul 12.18 GMT. Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$ 1,33, atau 1,7%, menjadi US$ 79,51.
Kedua harga acuan tersebut sempat turun lebih dari 7% pekan lalu karena adanya harapan bahwa Iran dan Oman hampir mencapai kesepakatan yang akan membuka kembali Selat Hormuz—jalur yang melayani pengangkutan seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia sebelum konflik Timur Tengah pecah pada akhir Februari.
Baca Juga: Harga Aluminium Melonjak 6 Hari Beruntun Senin (10/8), Stok Global Terus Menyusut
Iran menyatakan sedang mendekati kesepakatan final dengan Oman untuk menetapkan jalur pelayaran baru melalui Selat Hormuz, namun menegaskan kembali bahwa AS harus memenuhi syarat-syarat lain—termasuk pemberian kompensasi serta penghentian sanksi dan ancaman militer—sebelum jalur air strategis tersebut dibuka kembali.
"Iran dan AS tidak sedang melakukan perundingan, dan Teheran tidak akan memulainya selama Washington melanggar kesepakatan sementara yang ditandatangani pada bulan Juni," ujar Wakil Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi pada hari Minggu.
"Meskipun selat tersebut pada dasarnya masih tertutup, harga minyak saat ini diperdagangkan di kisaran $80 hingga $85 per barel, yang mencerminkan harapan akan adanya solusi dalam waktu dekat," ungkap analis SEB Research dalam sebuah catatan.
Sementara itu, dalam ancaman lebih lanjut terhadap pasokan, kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran menyatakan telah menyerang kilang minyak Jazan milik Saudi Aramco pada hari Minggu.
Serangan tersebut terjadi dua hari setelah kerajaan itu menandatangani pakta pertahanan dengan sekutu sesama negara Muslim Sunni, Turki dan Pakistan, sebagai tanggapan atas meningkatnya ketidakstabilan kawasan akibat konflik antara AS-Israel dan Iran yang berhaluan Syiah.
Baca Juga: Meta Luncurkan AI Baru Muse Glimmer, Zuckerberg Tantang Dominasi China
Secara terpisah, perusahaan minyak UEA, ADNOC, pada hari Jumat menyatakan bahwa 15 kapalnya telah diserang saat melintasi Selat Hormuz sejak awal konflik.
"Kemajuan signifikan apa pun menuju pemulihan pelayaran tanpa hambatan dapat memberikan tekanan penurunan pada harga minyak, sementara kegagalan negosiasi atau gangguan pasokan yang kembali terjadi dapat dengan cepat memicu naiknya kembali premi risiko geopolitik," ujar Sugandha Sachdeva, pendiri SS WealthStreet, sebuah perusahaan riset yang berbasis di New Delhi.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
