Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Harga minyak turun lebih dari US$ 2 per barel pada Rabu (26/8/2026) karena pembicaraan antara Iran dan Oman menghidupkan kembali harapan bahwa Selat Hormuz dapat dibuka kembali dan menghilangkan hambatan pelayaran yang mempengaruhi pasokan di wilayah penting Timur Tengah.
Mengutip Reuters, kontrak berjangka minyak mentah Brent turun US$ 2,30, atau 2,6%, menjadi US$ 86,28 per barel pada pukul 04.47 GMT, setelah sebelumnya sempat menyentuh level terendah sejak 13 Agustus.
Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun US$ 2,08, atau 2,53%, menjadi US$ 80,29, setelah sebelumnya sempat anjlok ke level terendah sejak 10 Agustus.
Kedua harga acuan tersebut turun lebih dari 3% pada hari Selasa.
"Pasar terus bereaksi terhadap perkembangan seputar navigasi melalui Selat Hormuz, dan harapan akan adanya kemajuan dalam pembicaraan antara Iran dan Oman telah memicu aksi jual," kata Mitsuru Muraishi, seorang analis di Fujitomi Securities.
Baca Juga: Iran Blacklist 45 Kapal, Kilang India dan Perusahaan Energi Mulai Menjauh
"Meski demikian, ketidakpastian mengenai prospek ke depan telah mendorong aksi beli saat harga rendah (bargain buying), sehingga membatasi penurunan lebih lanjut, dan harga kemungkinan akan tetap bergerak dalam kisaran tertentu untuk saat ini," tambahnya.
Iran menyatakan telah memulai kembali pembicaraan dengan Oman untuk mengelola selat tersebut di tengah tekanan ekonomi yang meningkat dari Presiden AS Donald Trump.
Iran dan Oman telah melakukan pembicaraan yang bersifat pasang-surut selama berminggu-minggu mengenai pengendalian lalu lintas di jalur perairan tersebut, yang sebelumnya menangani seperlima dari pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) global sebelum perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada bulan Februari.
Kedua negara menyatakan pada hari Selasa bahwa mereka telah membahas "koridor navigasi sementara bersama" yang melintasi selat tersebut dan sepakat untuk membersihkannya dari ranjau.
Di tengah perundingan tersebut, lalu lintas kapal yang melewati Selat Hormuz masih rendah. Hanya lima kapal komoditas—dua kapal tanker gas minyak cair (LPG) dan satu kapal tanker bitumen yang sedang keluar, serta dua kapal tanker produk dalam keadaan kosong—yang melintasi jalur air tersebut pada hari Selasa.
Baca Juga: China Kaji Payung Hukum Baru untuk Mengejar Tersangka Korupsi dan Aset di Luar Negeri
Data awal dari layanan pelacakan kapal Kpler menunjukkan angka ini turun dari rata-rata 10 hari sebesar 15 kapal dan jauh di bawah tingkat sebelum perang.
Pembicaraan mengenai pengakhiran konflik secara menyeluruh juga terus berlanjut. Pakistan dan Iran telah mencapai "kemajuan signifikan" dalam perundingan yang berfokus pada perang AS-Israel melawan Iran serta jalan menuju perdamaian; hal ini disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri Pakistan pada hari Selasa, di akhir kunjungannya ke Teheran.
Pada hari Senin, Washington memperluas sanksi yang bertujuan memutus jalur kehidupan ekonomi Iran, dengan ancaman akan menghukum negara-negara yang terus berbisnis dengan Teheran, meskipun mereka menyatakan tidak akan menjatuhkan sanksi tersebut secara langsung saat ini.
Di AS, American Petroleum Institute melaporkan bahwa cadangan minyak mentah meningkat sekitar 4,2 juta barel pada pekan yang berakhir tanggal 21 Agustus, menurut keterangan sumber-sumber pasar.
Para analis yang disurvei oleh Reuters memperkirakan rata-rata kenaikan cadangan minyak mentah sebesar sekitar 600.000 barel. Data resmi dari EIA—badan statistik di bawah Departemen Energi AS—dijadwalkan akan dirilis pada hari Rabu pukul 10.30 pagi waktu setempat (ET) atau 14.30 GMT.














