kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.723.000   -27.000   -0,98%
  • USD/IDR 17.771   30,00   0,17%
  • IDX 6.522   116,06   1,81%
  • KOMPAS100 849   15,70   1,88%
  • LQ45 641   8,52   1,35%
  • ISSI 230   4,91   2,18%
  • IDX30 358   4,21   1,19%
  • IDXHIDIV20 437   4,93   1,14%
  • IDX80 97   1,66   1,75%
  • IDXV30 122   1,89   1,57%
  • IDXQ30 114   1,08   0,96%

Harga Minyak Turun, Pasar Berharap Selat Hormuz Kembali Dibuka


Kamis, 27 Agustus 2026 / 15:39 WIB
Harga Minyak Turun, Pasar Berharap Selat Hormuz Kembali Dibuka
ILUSTRASI. Harga Minyak (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah dunia kembali turun lebih dari US$1 per barel pada Kamis (27/8/2026), memperpanjang tren pelemahan dalam beberapa hari terakhir. Penurunan harga minyak terjadi di tengah meningkatnya harapan pasar terhadap kemajuan diplomasi Iran dan Qatar yang berpotensi membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz.

Mengutip Reuters, harga minyak Brent turun US$1,36 atau 1,55% menjadi US$86,48 per barel pada pukul 08.00 GMT (15:00 WIB). Brent berada di jalur penurunan untuk hari keempat berturut-turut.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah US$1,40 atau 1,7% menjadi US$80,83 per barel. Harga WTI tercatat menuju penurunan selama lima hari berturut-turut.

Analis pasar utama KCM, Tim Waterer, mengatakan pelemahan harga minyak terjadi karena pasar mulai memperhitungkan kemungkinan tercapainya kesepakatan yang dapat meningkatkan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz.

Baca Juga: PM Qatar Kunjungi Teheran, Diplomasi Selat Hormuz Kembali Diupayakan

"Harga minyak kembali melemah hari ini karena pasar memperhitungkan meningkatnya ekspektasi bahwa kesepakatan dapat tercapai, yang akan meningkatkan jumlah pelayaran melalui Selat Hormuz," kata Waterer.

Menurut dia, apabila Selat Hormuz kembali dibuka secara lebih luas, harga minyak berpotensi mengalami penurunan lanjutan. Namun, pasar dinilai tidak akan langsung memperkirakan kondisi kembali sepenuhnya seperti sebelum konflik.

"Jika Hormuz kembali dibuka secara lebih luas, penurunan harga minyak lebih lanjut mungkin terjadi, tetapi pasar kemungkinan tidak akan memperkirakan kembalinya harga ke level sebelum konflik dalam waktu semalam," ujarnya.

Qatar Kembali Buka Jalur Diplomasi dengan Iran

Perdana Menteri Qatar dijadwalkan berkunjung ke Iran pada Kamis untuk menghidupkan kembali pembicaraan diplomatik guna mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir enam bulan.

Kunjungan tersebut berlangsung ketika intensitas pertempuran sebagian besar telah berhenti, tetapi belum terdapat terobosan diplomatik yang signifikan. Salah satu persoalan utama yang masih menjadi perbedaan antara kedua pihak adalah pengendalian Selat Hormuz.

Selat Hormuz menjadi salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia. Sebelum konflik pecah pada akhir Februari, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia setiap hari melewati selat tersebut.

Karena itu, gangguan terhadap lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz menjadi perhatian utama pasar energi global. Selat tersebut merupakan jalur transit penting bagi ekspor minyak dari sejumlah negara produsen utama di kawasan Teluk.

Data menunjukkan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz sedikit meningkat pada Rabu, meskipun ketegangan terkait penguasaan jalur tersebut masih berlangsung.

Iran dan Oman Bahas Pengaturan Selat Hormuz

Seorang sumber senior Iran pada Rabu mengatakan Iran dan Oman tengah menyelesaikan rincian kesepakatan mengenai pengendalian Selat Hormuz.

Baca Juga: Kanada Hapus Produk Seafood dari Daftar Tarif Balasan ke AS

Pernyataan tersebut muncul setelah Garda Revolusi Iran menyatakan kedua negara telah menyepakati mekanisme pembagian kendali atas jalur perairan strategis tersebut.

Di sisi lain, Amerika Serikat telah menghentikan serangannya terhadap Iran selama sekitar satu bulan. Washington juga berupaya meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran.

Perkembangan tersebut turut meningkatkan ekspektasi investor bahwa gangguan pasokan energi dari kawasan Teluk dapat berangsur mereda.

Namun, risiko ketidakpastian masih membayangi pasar minyak karena persoalan utama antara Iran dan pihak-pihak yang terlibat dalam konflik belum sepenuhnya terselesaikan.

"Inti dari perselisihan ini tetap berada pada program nuklir Iran dan persoalan tersebut kemungkinan tidak akan segera terselesaikan. Iran juga memahami pentingnya posisi geografisnya serta pengaruh yang diberikan oleh Selat Hormuz, sehingga risiko ketidakpastian yang berkepanjangan masih tetap ada," kata Priyanka Sachdeva, kepala market insights di Phillip Nova.

Perkembangan negosiasi Iran dan Qatar serta kondisi lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz selanjutnya akan menjadi perhatian utama pelaku pasar. Jika jalur tersebut kembali beroperasi lebih normal, kekhawatiran terhadap pasokan minyak global berpotensi berkurang dan memberikan tekanan tambahan terhadap harga minyak mentah.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×