Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Analis tersebut menyebut bank-bank global saat ini memegang posisi short sekitar US$ 4,4 miliar. Di sisi lain, permintaan industri telah menyerap sekitar 60% dari total produksi perak global setiap tahunnya.
Menurut analisis itu, untuk menutup posisi short tersebut dibutuhkan pasokan perak hasil tambang selama bertahun-tahun, sementara sebagian besar pasokan sudah terserap oleh sektor manufaktur.
“Inilah alasan mengapa harga perak ke depan hanya akan naik. Posisi short tersebut secara matematis hampir mustahil ditutup, sementara pasokan fisik benar-benar terbatas. Harga di pasar kertas bisa dimanipulasi sementara, tetapi pasokan fisik yang tidak ada tidak bisa dimanipulasi. Tidak ada skenario di mana posisi tersebut bisa ditutup pada harga saat ini. Harga harus naik hingga pasokan baru muncul atau para pemegang posisi short menyerah,” tulis analis tersebut.
Kepala Riset Logam Bank of America, Michael Widmer, juga menyatakan bahwa harga perak berpotensi naik ke kisaran US$ 135 hingga US$ 309 per ons pada 2026.
Tonton: Ancaman Koreksi 25%: Investor Wajib Tahu Risiko Jual Emas dan Perak Sekarang
Dengan demikian, lonjakan harga perak mencerminkan perpaduan kuat antara ketidakpastian makroekonomi, pengetatan pasokan, dan meningkatnya permintaan industri. Meski level US$ 100 kini menjadi fokus utama pasar, proyeksi harga di atas itu akan sangat bergantung pada berlanjutnya ketimpangan struktural di pasar fisik serta kuatnya minat investor terhadap logam mulia.













