Reporter: Harris Hadinata | Editor: Harris Hadinata
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Pasar perumahan Amerika Serikat (AS) menunjukkan sinyal yang beragam. Harga rumah masih mencatat kenaikan pada kuartal II-2026, tetapi penjualan rumah baru justru merosot tajam pada Juli. Kondisi ini menunjukkan tingginya harga rumah dan biaya pembiayaan masih menjadi hambatan bagi calon pembeli.
Menurut pengumuman Federal Housing Finance Agency (FHFA) AS, Selasa (25/8/2026), harga rumah AS naik 2,1% pada kuartal II-2026 dibandingkan kuartal II-2025. Secara kuartalan, harga rumah meningkat 0,3% dibandingkan kuartal I-2026. Sementara itu, indeks harga rumah bulanan FHFA yang telah disesuaikan secara musiman tidak berubah pada Juni dibandingkan Mei.
Kenaikan harga rumah berlangsung cukup luas. Harga rumah meningkat di 46 negara bagian dan District of Columbia dalam setahun hingga kuartal II. Negara bagian Alaska mencatat kenaikan tertinggi, yakni 8,3%, disusul Vermont 7,3%, Hawaii 5,8%, Illinois 5,6%, dan West Virginia 5,6%. Sebaliknya, harga rumah turun di empat negara bagian, dengan penurunan terbesar terjadi di New Mexico sebesar 1,2%.
Jika dilihat berdasarkan wilayah sensus, seluruh sembilan divisi sensus mencatat kenaikan harga secara tahunan. East North Central membukukan kenaikan tertinggi sebesar 4,5%, sedangkan Pacific mencatat kenaikan paling rendah, sedikit di atas 0%.
Baca Juga: China Borong Emas Lagi, Impor Juli Melonjak 28%, Ada Apa?
Namun, kenaikan harga tersebut belum mampu mendorong transaksi rumah baru. Data Biro Sensus AS dan Departemen Perumahan dan Pembangunan Perkotaan (HUD) yang dipublikasikan Selasa (25/8/2026) menunjukkan penjualan rumah baru pada Juli berada pada tingkat tahunan yang disesuaikan secara musiman sebesar 607.000 unit.
Angka tersebut anjlok 10,5% dari Juni yang mencapai 678.000 unit dan turun 6,3% dibandingkan Juli 2025 yang sebanyak 648.000 unit.
Penurunan penjualan terjadi ketika harga rumah baru juga masih relatif tinggi. Harga jual median rumah baru pada Juli mencapai US$ 393.800, sekitar Rp 6,96 miliar.
Angka tersebut turun 2,3% dari US$ 403.100 pada Juni dan turun 0,9% dibandingkan US$ 397.300 setahun sebelumnya. Sementara itu, harga jual rata-rata justru naik 4,1% secara bulanan menjadi US$ 508.800 dan meningkat 5,4% secara tahunan.
Di sisi pasokan, jumlah rumah baru yang tersedia untuk dijual pada akhir Juli mencapai 488.000 unit, naik 1,9% dari 479.000 unit pada Juni. Dengan laju penjualan saat ini, persediaan tersebut setara dengan 9,6 bulan pasokan, naik dari 8,5 bulan pada Juni.
Baca Juga: Kapal Induk AS USS Abraham Lincoln Akan Sandar di Thailand Pekan Depan
Meningkatnya pasokan relatif terhadap penjualan menunjukkan pasar rumah baru mulai menghadapi tekanan dari sisi permintaan. Penjualan yang turun sementara persediaan meningkat membuat pembeli memiliki lebih banyak pilihan dibandingkan sebelumnya.
Meski demikian, data penjualan rumah baru perlu dibaca secara hati-hati. Biro Sensus menyatakan angka tersebut merupakan estimasi survei dan masih dapat mengalami revisi. Biro Sensus juga mencatat diperlukan sekitar empat bulan untuk membentuk tren penjualan rumah baru, sementara estimasi awal penjualan yang telah disesuaikan secara musiman rata-rata mengalami revisi sekitar 5%.
Perbedaan antara harga dan penjualan tersebut menggambarkan tantangan keterjangkauan yang masih membayangi pasar perumahan AS. Calon pembeli menghadapi harga rumah yang tetap tinggi, sementara penjualan rumah baru belum menunjukkan pemulihan yang konsisten.














