Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - LONDON. Harga tembaga melonjak ke level tertinggi baru pada Rabu (14/1/2026), didorong oleh permintaan yang terus berlanjut dari dana-dana spekulatif. Namun, sebagian investor mulai waspada bahwa harga yang terlalu tinggi dapat menekan minat beli dari pengguna industri.
Kontrak tembaga acuan tiga bulan di London Metal Exchange (LME) naik 0,4% menjadi US$ 13.218 per ton pada pukul 22.15 WIB, setelah sempat menyentuh rekor tertinggi di US$ 13.407 per ton.
Dalam 12 bulan terakhir, harga tembaga di LME telah melonjak sekitar 44%, didorong oleh gangguan produksi tambang, kekhawatiran defisit pasokan, serta aliran logam ke Amerika Serikat menjelang potensi penerapan tarif yang memperketat pasokan di wilayah lain.
Baca Juga: CEO Nestlé Minta Maaf atas Penarikan Produk Susu Bayi di Puluhan Negara
“Dengan berbagai kekhawatiran terkait pelemahan nilai mata uang, risiko keuangan, dan independensi The Fed, permintaan terhadap aset riil menjadi sangat luar biasa,” kata Ole Hansen dari Saxo Bank di Kopenhagen.
Namun, ia memperingatkan ada batas tertentu di pasar logam industri di mana harga tinggi dapat memicu penurunan permintaan. “Saya tidak tahu di level mana batas itu tercapai, dan apakah kita sudah berada di titik tersebut,” ujarnya.
Data yang menunjukkan lemahnya impor tembaga ke China konsumen logam terbesar dunia menegaskan kehati-hatian pembeli fisik dalam bertransaksi pada harga tinggi. Dari sisi teknikal, Hansen menilai penutupan harga di bawah US$ 13.000 per ton dapat memicu tekanan penurunan.
Meski demikian, permintaan tembaga di China dinilai masih stabil, dengan potensi peningkatan stok menjelang libur Tahun Baru Imlek.
Kontrak tembaga yang paling aktif diperdagangkan di Shanghai Futures Exchange (SHFE) ditutup naik 0,9% pada perdagangan siang hari ke level 104.120 yuan (sekitar US$14.931,88) per ton, setelah sebelumnya menyentuh rekor 105.650 yuan.
Harga timah di bursa Shanghai dan London juga mencetak rekor baru. Sepanjang bulan ini, harga timah telah melonjak masing-masing 24% di Shanghai dan 32% di London, didorong ekspektasi bahwa pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) akan terus meningkatkan permintaan logam yang digunakan dalam pembuatan semikonduktor.
Harga timah SHFE melonjak 8% hingga menyentuh batas atas perdagangan di 413.170 yuan per ton, sementara timah LME melonjak 8,3% ke level US$ 53.650 per ton.
Baca Juga: Yen Jepang Menguat dari Level Terendah 18 Bulan, Dolar AS Melemah terhadap Euro
“Kami tidak melihat perubahan mendasar yang signifikan pada fundamental timah. Kenaikan harga ini didorong oleh perdagangan spekulatif,” kata analis SDIC Futures, Jing Xiao.
Tom Langston dari International Tin Association juga menyebutkan bahwa metrik penawaran dan permintaan relatif tidak berubah, seraya menambahkan bahwa minat dana terhadap kontrak timah LME berada di level tertinggi sepanjang sejarah.
Di pasar logam lainnya, harga aluminium LME turun tipis 0,2% ke US$3.191 per ton, setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak April 2022 di US$ 3.225.
Harga seng naik 2,1% ke US$ 3.267, timbal menguat 0,9% ke US$2.080, sementara nikel melonjak 5,7% ke US$ 18.685 per ton, setelah sebelumnya menyentuh level terkuat sejak Juni 2024 di US$ 18.905.












![[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_17122515210200.jpg)
