Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - LONDON. Harga tembaga menguat di awal pekan setelah dolar Amerika Serikat (AS) melemah dan data dari konsumen logam utama, China, lebih baik dari yang diperkirakan.
Senin (19/1/2026) pukul 18.00 WIB, harga tembaga acuan tiga bulan di London Metal Exchange naik 0,6% menjadi US$ 12.885 per metrik ton, setelah dua sesi berturut-turut mengalami penurunan.
Harga tembaga LME menyentuh titik terendah satu minggu pada hari Jumat (16/1/2026) karena aksi ambil untung dan kekhawatiran tentang permintaan China yang lemah. Padahal, pada Rabu (14/1/2026), harga tembaga mencapai rekor tertinggi di US$ 13.407 metrik ton.
Harga tembaga telah melonjak 31% selama enam bulan terakhir, sebagian karena kekhawatiran bahwa gangguan pertambangan akan menyebabkan kekurangan pasokan tahun ini.
Baca Juga: Ancaman Tarif Trump: PM Starmer Ungkap Strategi Inggris Hindari Perang Dagang
"Kenaikan harga tembaga hari ini sebagian besar didorong oleh faktor makro dan dolar setelah ancaman tarif Trump terhadap beberapa negara Eropa melemahkan dolar AS dan memicu pembelian logam secara luas," kata Ewa Manthey, ahli strategi komoditas di ING.
"Pergerakan ini diperkuat oleh PDB China yang memenuhi target pemerintah, yang membantu menstabilkan sentimen permintaan."
Indeks dolar AS turun setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan akan mengenakan tarif impor tambahan 10% mulai 1 Februari pada barang-barang dari delapan negara Eropa hingga AS diizinkan untuk membeli Greenland.
Dolar AS yang lebih lemah membuat komoditas yang dihargai dalam mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
Investor merasa optimistis dengan data yang menunjukkan produksi industri China naik 5,2% pada Desember dibandingkan tahun sebelumnya, lebih cepat daripada November dan lebih tinggi dari perkiraan.
Selain itu, pertumbuhan ekonomi di negara ekonomi terbesar kedua di dunia pada kuartal keempat sedikit lebih baik dari perkiraan.
Kontrak tembaga yang paling aktif di Bursa Berjangka Shanghai ditutup turun 0,7% pada perdagangan siang hari menjadi 101.180 yuan (US$ 14.531,51) per ton karena investor di sana terus melakukan aksi ambil untung.
Baca Juga: Kekayaan Miliarder Pecah Rekor, Capai Level Tertinggi Sepanjang Sejarah
Mereka juga khawatir tentang lemahnya permintaan pada harga yang tinggi karena persediaan tembaga di gudang yang dipantau oleh SHFE terus meningkat selama enam minggu berturut-turut.
Persediaan tembaga yang dapat dikirimkan naik 18,3% menjadi 213.515 ton pada hari Jumat, level tertinggi dalam sembilan bulan.
Di antara logam lainnya, harga aluminium LME sedikit berubah pada US$ 3.133,50 per ton, seng naik 0,3% menjadi US$ 3.217,50. Sejalan, timbal naik 0,5% menjadi US$ 2.054 dengan nikel melonjak 2,7% menjadi US$ 18.060 dan timah turun 0,2% menjadi US$ 47.910.












![[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_17122515210200.jpg)
