kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45770,67   6,06   0.79%
  • EMAS888.000 0,11%
  • RD.SAHAM -0.17%
  • RD.CAMPURAN -0.05%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.12%

Harvard sebut Singapura terapkan standar emas deteksi virus corona, RI sebaliknya


Selasa, 18 Februari 2020 / 13:55 WIB
Harvard sebut Singapura terapkan standar emas deteksi virus corona, RI sebaliknya
ILUSTRASI. Turis mengenakan masker di Singapura. REUTERS/Feline Lim

Sumber: ibtimes.com,The Straits Times | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Pendekatan yang dilakukan pemerintah Singapura mendapat acungan jempol dari berbagai pihak. Menurut hasil studi terbaru yang dilakukan Harvard terhadap wabah virus corona, Singapura menerapkan "standar emas" untuk pendeteksian kasus. Para peneliti bahkan menyontohkan Singapura sebagai patokan untuk negara-negara lain.

Melansir The Straits Times, hasil studi ini menyimpulkan bahwa jumlah global kasus Covid-19, akan naik 2,8 kali lebih banyak daripada saat ini jika setiap negara lain memiliki kapasitas deteksi yang sama dengan Singapura.

"Kami menganggap deteksi 18 kasus pada 4 Februari 2016 di Singapura sebagai standar emas untuk deteksi nyaris sempurna," tulis empat ahli epidemiologi di Sekolah Kesehatan Masyarakat Harvard T. H. Chan.

Baca Juga: Ilmuwan China: Obat antimalaria efektif untuk mengobati infeksi virus corona

"Kami memperkirakan bahwa deteksi kasus yang diekspor dari Wuhan di seluruh dunia adalah 38% sensitif seperti di Singapura," tambah mereka.

Di antara apa yang disebut sebagai negara dengan "pengawasan tinggi" di studi tersebut, jumlahnya mencapai 40%. Studi itu mengatakan, kemampuan deteksi di antara negara-negara dengan "pengawasan rendah", hanyalah 11% dari Singapura.

Mengutip The Straits Times, negara-negara dengan pendeteksian kasus tinggi didefinisikan sebagai negara-negara yang mendapat skor tertinggi pada Indeks Keamanan Kesehatan Global (GHSI), yang memberi peringkat negara-negara pada kemampuan pencegahan, deteksi, pelaporan dan kemampuan respons penyakit mereka, di antara negara yang lainnya.

Baca Juga: Virus corona dan ancaman resesi membuat Bursa Asia memerah

Para peneliti juga merujuk pada hasil studi sebelumnya dari sekolah yang menyoroti Singapura sebagai anomali statistik ketika mencoba memperkirakan berapa banyak kasus masing-masing negara berdasarkan volume perjalanan dari Tiongkok.

Para peneliti telah memeriksa data yang dikumpulkan dari laporan Organisasi Kesehatan Dunia 4 Februari tentang jumlah kasus yang diimpor oleh para pelancong yang diketahui memiliki sejarah perjalanan ke China ke 191 negara dan wilayah. Studi ini mengecualikan Hong Kong, Makau dan Taiwan.

Para peneliti kemudian menggunakan data historis dari Asosiasi Perjalanan Udara Internasional dan sumber-sumber lain untuk memperkirakan jumlah penumpang perjalanan udara harian dari Wuhan, tempat virus berasal, ke lokasi di luar China.

Baca Juga: Gara-Gara Korona, Jumlah Penumpang Garuda di Rute Singapura Berkurang

"Di antara negara-negara dengan volume perjalanan yang besar, Singapura menunjukkan rasio tertinggi dari impor kasus yang terdeteksi terhadap volume perjalanan harian, rasio satu kasus per lima wisatawan setiap hari," catat para penulis penelitian.

"Singapura secara historis dikenal untuk deteksi kasus yang sangat sensitif, misalnya pada SARS (sindrom pernafasan akut yang parah), dan telah memiliki laporan kasus yang sangat rinci selama wabah Covid-19," tambah mereka.

Baca Juga: Ratusan warga Amerika diterbangkan pulang dari kapal pesiar, 14 positif virus corona

Salah satu implikasi dari studi terbaru adalah bahwa virus itu bisa tetap tidak terdeteksi setelah diekspor dari Wuhan ke berbagai lokasi di seluruh dunia sebelum kota itu dikunci pada 23 Januari, para penulis mencatat.

Studi Harvard diunggah ke arsip ilmu kesehatan online gratis yang disebut medRxiv pada hari Jumat sebagai naskah yang tidak diterbitkan.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan Indonesia.  Melansir ibtimes.com, ahli epidemiologi Marc Lipsitch dari Harvard T.H. Chan School of Public Health, telah memposting hasil riset terbarunya di medRxiv. Ini merupakan sebuah situs medis online yang berfokus pada laporan awal yang belum ditinjau oleh rekan sejawat yang lain.

Baca Juga: Masih belum terbendung, Singapura laporkan dua kasus baru virus corona

Penelitian Lipsitch didasarkan pada perkiraan jumlah penumpang yang terbang dari Wuhan, China, tempat virus korona berasal, ke kota-kota global lainnya. Jika sejumlah kasus terdeteksi di kota-kota lain, harapannya adalah bahwa jumlah kasus yang sama atau lebih besar akan terjadi di kota-kota yang terletak lebih dekat ke Wuhan.

"Indonesia, telah melaporkan nol kasus, padahal Anda memprediksi seharusnya sudah ada beberapa kasus," kata Lipsitch. Dia juga mengomentari 25 kasus di Thailand yang dilaporkan. Namun, "Anda akan mengharapkan lebih."

Baca Juga: Kementan: Imbas virus corona, ekspor-impor komoditas mengalami penurunan drastis

Adapun Kamboja yang telah melaporkan satu kasus juga diragukan pernyataannya. "Sangat tidak mungkin. Tetapi tidak sepenuhnya melampaui apa yang Anda harapkan," ujar Lipsitch, seperti yang dikutip dari ibtimes.com.

Hal yang dia takutkan adalah bahwa sistem kesehatan di negara-negara yang memiliki hubungan dekat dengan China dan Wuhan tidak mendeteksi kasus ketika ada orang yang terinfeksi masuk ke negaranya. Masalahnya semakin membesar karena virus ini sangat menular selama masa inkubasinya, diperkirakan sekitar 10 hari. Karena itu, orang yang diduga terinfeksi virus corona dikarantina selama 14 hari seperti kasus di atas kapal pesiar yang merapat di Jepang atau pangkalan militer di California.

Baca Juga: Virus corona menyengat perekonomian negara maju

Lipsitch menambahkan, "Kasus-kasus yang tidak terdeteksi di negara mana pun berpotensi menyebarkan epidemi di negara-negara itu." Dan seperti halnya China yang tidak dapat menahan virus, Indonesia dan Thailand juga tidak akan dapat mencegah penyebarannya ke luar perbatasan mereka.



TERBARU

[X]
×