Reporter: Adrianus Octaviano | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Gara-gara kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait kebijakan tarif timbal balik, Apple Inc. harus mendapat getahnya. Aksi jual terjadi pada saham perusahaan teknologi ini.
Mengutip Yahoo Finance Jumat (4/4), saham Apple mengalami penurunan lebih dari 8% dalam perdagangan Kamis (3/4). Ini menandai koreksi terburuk sejak Maret 2020 silam.
Alhasil, kapitalisasi pasar dari saham perusahaan yang dikenal dengan produk gawainya ini mengalami penurunan. Setidaknya, dana sekitar US$ 300 miliar pada akhirnya menguap gara-gara aksi jual yang terjadi pada sahamnya.
Baca Juga: Pasar Saham Global Terguncang Tarif Trump! Malapetaka Ekonomi Global Menghantui
Beberapa analis menilai risiko terbesar berpusat pada pusat produksi luar negeri pembuat iPhone tersebut. Di mana, jal tersebut sangat rentan terhadap negara-negara yang dikenai tarif.
Ambil contoh, China yang merupakan pusat produksi Apple dengan sekitar 85% iPhone-nya diproduksi di sana. Kebijakan baru Trump telah memutuskan pajak tambahan sebesar 34% terhadap China dan akan ditambahkan ke tarif 20% yang berlaku di negara tersebut. Artinya, total tarifnya akan naik menjadi 54%.
“Apple pada dasarnya memproduksi semua iPhone mereka di China, dan pertanyaannya akan berkisar pada pengecualian dan pembebasan pada kebijakan tarif ini jika perusahaan-perusahaan tersebut membangun lebih banyak operasi, pabrik, dan pabrik di AS seperti yang diumumkan Apple pada bulan Februari ," kata analis Wedbush Dan Ives dalam sebuah catatan setelah pengumuman tersebut.
Sejatinya, Apple telah meningkatkan rantai pasokannya di luar China, meningkatkan produksi di tempat-tempat seperti India dan Vietnam seiring meningkatnya ketegangan perdagangan. Namun dengan pengumuman tarif baru yang akan berdampak pada negara-negara tersebut juga, kini ruang untuk penangguhan hukuman menjadi terbatas.
"Kekhawatiran akan berkisar pada dampak harga dan margin beserta apa artinya hal ini bagi rantai pasokan global di masa mendatang," kata Ives.
Baca Juga: Presiden Prancis Macron Serukan Penangguhan Investasi Eropa ke AS Setelah Tarif Trump
Untuk saat ini, analis tersebut terus meyakini negosiasi besar akan terjadi dalam beberapa bulan mendatang karena perusahaan berupaya menavigasi dunia tarif baru ini.
Hingga saat itu, ia memperingatkan saham teknologi jelas akan berada di bawah tekanan besar.
Saham Magnificent Seven lainnya juga menghadapi aksi jual yang signifikan. Secara agregat, kelompok saham tersebut saat ini telah kehilangan lebih dari US$ 800 miliar dari kapitalisasi pasar kolektif mereka.
Pada akhir jam perdagangan, Amazon dan Nvidia masing-masing turun 7%, diikuti oleh penurunan 6% pada Alphabet dan Tesla. Meta turun 3%, sementara Microsoft turun sedikit di bawah 2%.
Sebagai informasi, Trump telah mengumumkan tarif yang akan berdampak pada sekitar 185 negara, termasuk mitra dagang terbesar Amerika Serikat. Tarif timbal balik tambahan, misalnya, akan mencakup tarif 34% untuk impor dari China, tarif 20% untuk impor dari Uni Eropa, tarif 46% untuk impor dari Vietnam, 32% untuk impor dari Taiwan, dan 26% untuk India