Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) bertahan di dekat level tertinggi dalam satu pekan pada perdagangan Selasa (21/7/2026), di tengah sikap hati-hati pelaku pasar yang masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah.
Mengutip Reuters, indeks dolar AS, yang mengukur pergerakan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, stabil di level 100,96, mendekati posisi tertinggi sejak 15 Juli.
Baca Juga: Samsung Bentuk Divisi Robotika, Rekrut Eks Eksekutif Hyundai untuk Pimpin Strategi
Pasar masih dihadapkan pada dua sentimen yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, eskalasi konflik di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Di sisi lain, muncul harapan meredanya konflik setelah Iran menerima usulan gencatan senjata selama 10 hari dari para mediator.
Terhadap yen Jepang, dolar AS bergerak relatif datar di 162,50 yen. Sementara euro juga nyaris tidak berubah di US$ 1,1415.
Adapun pound sterling bertahan di US$ 1,3434 setelah Perdana Menteri Inggris yang baru, Andy Burnham, menegaskan pemerintahannya akan tetap berpegang pada aturan disiplin fiskal.
Baca Juga: Ini Spesifikasi Patriot ACE, Rudal Patriot Murah Baru dari Lockheed Martin
Harga minyak masih bergerak fluktuatif di sekitar level tertinggi enam pekan. Sebelumnya, kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi, sehingga meningkatkan kekhawatiran akan terganggunya pasokan energi global.
Meski demikian, peluang deeskalasi tetap terbuka setelah Teheran menerima proposal gencatan senjata selama 10 hari.
"Ada harapan ketegangan akan sedikit mereda dan pada akhirnya akan ada jeda. Namun situasinya masih sangat bergejolak," kata Rodrigo Catril, Senior Currency Strategist National Australia Bank.
Menurutnya, pelaku pasar masih harus menunggu apakah konflik akan semakin meluas atau justru mulai mereda.
Baca Juga: Singapura Tunjuk Lima Bank Penerbitan Obligasi Hijau 20 Tahun Senilai S$ 2,1 Miliar
Risiko inflasi kembali menjadi perhatian
Imbal hasil obligasi pemerintah AS kembali meningkat karena investor mempertimbangkan dampak kenaikan harga minyak terhadap inflasi.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bertahan tinggi di 4,5937%, sementara imbal hasil obligasi tenor 30 tahun tetap berada di atas 5%.
Di pasar mata uang lainnya, dolar Selandia Baru menguat 0,4% menjadi US$ 0,5860, level tertinggi sejak awal Juni, setelah data inflasi yang lebih kuat dari perkiraan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan.
Dolar Australia juga menguat tipis ke US$ 0,7001.
Sementara itu, survei Bank Sentral Eropa (ECB) menunjukkan perusahaan-perusahaan di zona euro memperkirakan kenaikan harga jual akan berlangsung lebih moderat.
Baca Juga: Taiwan Bersiap Hadapi Invasi China, Kecepatan Internet Seluler Akan Dibatasi
ECB diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan ini. Namun, kenaikan harga minyak mendorong spekulasi bahwa bank sentral tersebut masih berpeluang menaikkan suku bunga deposito yang saat ini berada di level 2,25% pada September mendatang.
Di sisi lain, dolar Kanada bergerak stabil setelah sebelumnya menyentuh level terendah dalam satu bulan.
Pergerakan itu terjadi setelah Amerika Serikat mengenakan tarif baru sebesar 50% terhadap berbagai produk asal Kanada sebagai respons atas kebijakan yang dinilai Washington sebagai perlakuan diskriminatif dari Ottawa.












![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
