Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan mayoritas mata uang dunia cenderung stabil pada Selasa (21/4/2026), seiring investor menunggu perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran terkait pembukaan kembali jalur pelayaran di Teluk.
Ketidakpastian masih membayangi prospek perdamaian setelah gencatan senjata diperkirakan berakhir pekan ini. Hingga kini, Iran belum memutuskan langkah lanjutan dalam proses diplomatik menyusul meningkatnya ketegangan dalam beberapa waktu terakhir.
Meski demikian, pasar tetap berharap kedua pihak memiliki kepentingan untuk mencapai kesepakatan. Presiden AS Donald Trump mengatakan proses negosiasi berlangsung “relatif cepat” dan diyakini akan menghasilkan kesepakatan yang lebih baik dibanding perjanjian sebelumnya.
Baca Juga: SpaceX Siapkan IPO Terbesar dalam Sejarah, Elon Musk Pertahankan Kendali Penuh
Strategis mata uang dari Commonwealth Bank of Australia, Carol Kong, mengatakan Trump terlihat ingin segera mencapai kesepakatan dengan Iran dan mengakhiri perang secepat mungkin.
Namun, menurutnya, arah pasar dalam 24 jam ke depan akan sangat ditentukan oleh hasil pembicaraan antara kedua negara tersebut.
Dolar Stabil, Euro dan Pound Melemah
Mata uang euro tercatat berada di level US$ 1,1781, sementara pound sterling diperdagangkan di US$ 1,3525. Keduanya melemah sekitar 0,1% dibanding perdagangan sebelumnya.
Sementara itu, dolar Australia yang sensitif terhadap risiko turun 0,1% menjadi US$ 0,7171.
Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama termasuk yen dan euro, stabil di level 98,15 setelah turun 0,2% pada Senin.
Di sisi lain, harga minyak melemah karena pasar berharap pembicaraan damai akan membuka kembali akses pengiriman energi melalui Selat Hormuz. Harga minyak mentah Brent tercatat berada di kisaran US$ 95 per barel.
Fokus Beralih ke Bank Sentral
Investor juga mencermati langkah bank sentral sejumlah negara. Yen Jepang stabil di level 158,89 per dolar AS dan masih berada dekat ambang 160, yang dianggap pelaku pasar sebagai batas penting untuk potensi intervensi pemerintah Jepang.
Baca Juga: Penipuan Berkedok Izin Lintas Selat Hormuz Marak, Kapal Diminta Bayar Kripto
Bank of Japan diperkirakan belum akan menaikkan suku bunga pada pertemuan pekan depan. Ketidakpastian terkait konflik Timur Tengah membuat prospek ekonomi dan inflasi Jepang masih belum jelas.
Sementara itu, dolar Selandia Baru atau kiwi menguat 0,4% ke level US$ 0,5914 setelah inflasi tahunan Selandia Baru tetap berada di 3,1% pada kuartal pertama, lebih tinggi dari target bank sentral. Kondisi ini meningkatkan peluang kenaikan suku bunga lanjutan tahun ini.
Pasar Pantau Calon Ketua The Fed
Pelaku pasar juga menyoroti sidang konfirmasi di Senat AS untuk Kevin Warsh, calon pilihan Trump untuk memimpin Federal Reserve.
Warsh dijadwalkan menegaskan kepada anggota parlemen bahwa kebijakan moneter akan tetap dijalankan secara independen.
Selain itu, pasar juga menunggu data penjualan ritel AS bulan Maret yang diperkirakan meningkat 1,4%. Data ini menjadi salah satu indikator penting untuk mengukur kekuatan konsumsi masyarakat dan arah ekonomi AS ke depan.













