Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan pasar mata uang global cenderung stabil pada Rabu (25/3/2026), seiring sikap hati-hati pelaku pasar terhadap kemungkinan meredanya konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Washington menunjukkan kemajuan dalam pembicaraan dengan Iran. Namun, pihak Teheran membantah adanya negosiasi langsung, sehingga ketidakpastian masih membayangi pasar.
Laporan juga menyebutkan bahwa AS telah mengirimkan proposal berisi 15 poin kepada Iran untuk dibahas. Di sisi lain, serangan udara antara Israel dan Iran masih terus berlangsung, menambah ketegangan geopolitik.
Dolar AS Menguat Tipis
Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama tercatat naik tipis sekitar 0,16% ke level 99,343. Sementara itu, euro sedikit melemah ke posisi US$1,1596.
Baca Juga: Harga Emas Naik 2%, Penurunan Harga Minyak Redakan Kekhawatiran Inflasi
Poundsterling Inggris relatif stabil di level US$1,3399, setelah data menunjukkan inflasi konsumen Inggris bertahan di 3% secara tahunan pada Februari, sama seperti bulan sebelumnya. Meski demikian, tekanan inflasi diperkirakan meningkat seiring dampak konflik di Timur Tengah terhadap harga energi.
Nick Rees, Kepala Riset Makro Monex, menyatakan bahwa pasar valuta asing saat ini berada dalam kondisi “menunggu”. Pelaku pasar masih menanti kejelasan arah negosiasi antara AS dan Iran sebelum mengambil posisi lebih lanjut.
Pasar Saham Menguat, Harga Minyak Turun
Kondisi pasar valas yang cenderung datar berbanding terbalik dengan penguatan pasar saham dan penurunan harga minyak. Harga minyak mentah Brent tercatat turun sekitar 5% ke kisaran US$95 per barel.
Chris Weston dari Pepperstone Group menyebut pelaku pasar mulai mengalami “kejenuhan” terhadap arus berita terkait negosiasi dan potensi gencatan senjata, yang sejauh ini belum menghasilkan kepastian.
Pergerakan Mata Uang Global
Terhadap yen Jepang, dolar AS menguat 0,16% ke level 158,94 yen. Kenaikan ini terjadi setelah risalah rapat Bank of Japan menunjukkan kecenderungan untuk melanjutkan kenaikan suku bunga, meski tanpa target waktu yang jelas.
Sementara itu, dolar Australia melemah 0,4% ke US$0,6965, menyusul rilis data inflasi Februari yang naik 3,7%, sedikit lebih rendah dari ekspektasi analis.
Baca Juga: Negara-Negara Barat Gagal Amankan Laut Merah, Tantangan di Selat Hormuz Kian Berat
Ekspektasi Suku Bunga AS Berubah
Pasar kini mulai mengubah ekspektasi terhadap kebijakan moneter AS. Jika sebelumnya diperkirakan akan terjadi penurunan suku bunga, kini muncul kemungkinan kecil kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember, berdasarkan data CME FedWatch.
Gubernur Federal Reserve, Michael Barr, menyatakan bahwa suku bunga kemungkinan perlu dipertahankan lebih lama mengingat inflasi masih berada di atas target 2% serta adanya risiko dari konflik geopolitik.
Pasar Obligasi dan Kripto
Pasar obligasi AS menunjukkan pemulihan setelah volatilitas tinggi dalam sepekan terakhir. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun 6,6 basis poin ke level 4,326%.
Di pasar kripto, Bitcoin menguat 2,09% ke US$71.528, sementara Ethereum naik 1,73% ke US$2.185.
Secara keseluruhan, pasar global masih bergerak hati-hati, menunggu kepastian arah konflik geopolitik yang berpotensi besar memengaruhi stabilitas ekonomi dan keuangan dunia.













