Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga emas dunia menguat sekitar 2% pada perdagangan Rabu (25/3), didorong oleh penurunan harga minyak yang meredakan kekhawatiran inflasi serta ekspektasi kenaikan suku bunga. Di sisi lain, pelaku pasar juga mencermati dinamika konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang masih berlangsung.
Berdasarkan data pasar, harga emas spot naik 1,9% menjadi US$4.558,03 per ons pada pukul 10.05 GMT. Sebelumnya, logam mulia ini sempat menyentuh level terendah dalam empat bulan di US$4.097,99 pada awal pekan. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April melonjak 3,5% ke level US$4.556,30 per ons.
Kenaikan harga emas terjadi seiring turunnya harga minyak lebih dari 5%, didorong optimisme bahwa Washington tengah mengupayakan gencatan senjata selama satu bulan dengan Iran. Namun, pihak militer Iran membantah klaim Presiden AS Donald Trump terkait adanya negosiasi tersebut, dengan menyebut Amerika Serikat “bernegosiasi dengan dirinya sendiri”.
Ekspektasi Suku Bunga Melemah
Penurunan harga minyak turut mengurangi tekanan inflasi global, yang pada gilirannya menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral, khususnya Federal Reserve.
Baca Juga: Negara-Negara Barat Gagal Amankan Laut Merah, Tantangan di Selat Hormuz Kian Berat
Analis Quantitative Commodity Research, Peter Fertig, menyatakan bahwa pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga semakin kecil. Hal ini tercermin dari pergerakan pasar uang yang menunjukkan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar.
Data dari CME Group melalui FedWatch menunjukkan bahwa pelaku pasar menurunkan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed hingga Desember menjadi sekitar 16%, dari sebelumnya 25% pada akhir pekan lalu.
Secara umum, emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Namun, kenaikan suku bunga biasanya menekan permintaan emas karena logam ini tidak memberikan imbal hasil.
Sikap The Fed dan Prospek Emas
Ketua The Fed Jerome Powell sebelumnya menyampaikan sikap yang lebih hati-hati terkait pemangkasan suku bunga. Meski demikian, sejumlah analis menilai bias pelonggaran kebijakan moneter masih tetap ada.
Gubernur The Fed Michael Barr juga menyatakan bahwa suku bunga kemungkinan perlu dipertahankan pada level saat ini untuk beberapa waktu sebelum ada ruang untuk penurunan lebih lanjut.
Baca Juga: Harga Minyak Anjlok 5% di Tengah Harapan Gencatan Senjata AS–Iran
Dalam catatannya, UBS menilai harga emas tidak selalu menguat selama konflik geopolitik. Namun, perubahan kebijakan moneter yang lebih ketat secara historis dapat menekan harga emas lebih lama setelah fase koreksi awal.
Logam Mulia Lain Ikut Menguat
Selain emas, logam mulia lainnya juga mencatatkan kenaikan. Harga perak spot naik 2,2% menjadi US$72,76 per ons. Sementara itu, platinum menguat 1,3% ke US$1.959,15 per ons, dan palladium naik 1,1% menjadi US$1.455,25 per ons.
Pergerakan ini mencerminkan sentimen pasar yang masih dipengaruhi oleh kombinasi faktor geopolitik dan ekspektasi kebijakan moneter global, yang akan terus menjadi penentu arah harga komoditas ke depan.













