Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - LONDON. Inflasi harga konsumen Inggris naik secara tahunan menjadi 3,3% pada bulan Maret 2026 dari posisi di bulan Februari 2026 yang sebsar 3%. Kenaikan inflasi Inggris terjadi karena dampak pertama akibat perang di Timur Tengah.
Para ekonom yang disurvei oleh Reuters sebagian besar memperkirakan inflasi akan meningkat menjadi 3,3%, didorong oleh kenaikan biaya bensin dan bahan bakar lainnya selama bulan Maret.
Sebelum perang AS-Israel di Iran dimulai pada 28 Februari, Bank of England (BoE) mengatakan, tingkat inflasi Inggris - tertinggi di antara negara-negara Kelompok Tujuh (G7) selama hampir empat tahun terakhir - kemungkinan akan mendekati target 2% pada bulan April.
Namun, bulan lalu, Bank of England secara tajam meningkatkan perkiraan inflasinya karena guncangan harga energi, memperkirakan inflasi akan naik menuju 3,5% pada pertengahan tahun 2026.
Baca Juga: Pasokan Minyak Jerman Terancam: Kazakhstan Hentikan Ekspor Mei 2026
Dana Moneter Internasional (IMF) pada pekan lalu memperkirakan, inflasi Inggris akan mencapai puncaknya pada 4% dalam beberapa bulan mendatang.
Namun, para penentu suku bunga Bank of England (BoE) sebagian besar mengatakan masih terlalu dini untuk mengetahui apa arti kenaikan inflasi utama bagi tekanan harga mendasar dalam perekonomian, mengingat pasar kerja yang lemah yang dapat mempersulit pekerja untuk menuntut upah yang lebih tinggi atau bagi bisnis untuk meneruskan biaya yang lebih tinggi.
Bank sentral Inggris diperkirakan akan mempertahankan biaya pinjaman pada tanggal 30 April di akhir pertemuan Komite Kebijakan Moneter terjadwal berikutnya.
Pasar keuangan pada hari Selasa bertaruh pada satu atau mungkin dua kenaikan suku bunga seperempat poin oleh BoE tahun ini. Tetapi jajak pendapat Reuters terhadap para ekonom menunjukkan sebagian besar memperkirakan tidak ada perubahan biaya pinjaman selama tahun 2026.













