kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   20.000   0,73%
  • USD/IDR 17.900   47,00   0,26%
  • IDX 6.127   -2,81   -0,05%
  • KOMPAS100 807   -1,47   -0,18%
  • LQ45 611   -9,23   -1,49%
  • ISSI 216   0,35   0,16%
  • IDX30 348   -6,56   -1,85%
  • IDXHIDIV20 426   -11,92   -2,72%
  • IDX80 93   -0,89   -0,95%
  • IDXV30 118   -2,46   -2,04%
  • IDXQ30 112   -2,96   -2,59%

Inflasi Inti Tokyo Tetap di Bawah Target BOJ, Produksi Pabrik Jepang Bangkit


Jumat, 29 Mei 2026 / 09:09 WIB
Inflasi Inti Tokyo Tetap di Bawah Target BOJ, Produksi Pabrik Jepang Bangkit
ILUSTRASI. Forex - Yen Jepang, Dolar AS, Pound (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Inflasi inti tahunan di Tokyo tetap berada di bawah target 2% Bank of Japan (BOJ) untuk bulan keempat berturut-turut pada Mei 2026.

Data yang dirilis Jumat (29/5/2026) menunjukkan, subsidi pemerintah untuk bahan bakar, tagihan utilitas, air, dan biaya pendidikan membantu menahan laju kenaikan harga meski tekanan biaya energi meningkat akibat konflik AS-Israel dengan Iran.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun Tipis Jumat (29/5): Brent ke US$ 93,36 & WTI ke US$ 88,27

Di sisi lain, produksi pabrik Jepang justru kembali meningkat pada April berkat kuatnya permintaan terkait kecerdasan buatan (AI), yang menutupi pelemahan di sejumlah sektor lain yang terdampak konflik Timur Tengah.

Data tersebut diperkirakan menjadi salah satu pertimbangan penting BOJ dalam rapat kebijakan moneter bulan depan.

Pasar saat ini memperkirakan BOJ akan menaikkan suku bunga acuan jangka pendek menjadi 1% dari level saat ini 0,75%.

Head of Asia-Pacific Capital Economics Marcel Thieliant menilai, data aktivitas ekonomi April menunjukkan ekonomi Jepang masih mampu bertahan dari lonjakan biaya energi.

“Data aktivitas April menunjukkan ekonomi Jepang mampu mengabaikan guncangan biaya energi dan memperkuat alasan bagi BOJ untuk menaikkan suku bunga bulan depan,” ujarnya.

Baca Juga: Harga Emas Naik Tipis ke US$ 4.512 Jumat (29/5), Harapan Gencatan Senjata AS-Iran

Indeks harga konsumen (CPI) inti Tokyo, yang tidak memasukkan harga pangan segar, tercatat naik 1,3% pada Mei dibandingkan periode sama tahun lalu.

Angka tersebut melambat dibanding kenaikan 1,5% pada April dan menjadi perlambatan selama enam bulan berturut-turut. Realisasi itu juga berada di bawah ekspektasi pasar sebesar 1,5%.

Perlambatan inflasi Tokyo, yang kerap menjadi indikator awal tren inflasi nasional Jepang, terutama dipengaruhi subsidi pemerintah untuk menekan biaya utilitas dan pendidikan.

Meski demikian, analis memperkirakan inflasi akan kembali meningkat dalam beberapa bulan ke depan seiring lonjakan harga minyak dan kenaikan biaya impor akibat pelemahan yen.

Baca Juga: Dolar AS Tertekan Jumat (29/5), Setelah Muncul Laporan Gencatan Senjata AS-Iran

Ekonom senior Sompo Institute Plus Masato Koike mengatakan, konflik Timur Tengah berpotensi mendorong kenaikan harga di berbagai sektor.

“Tekanan biaya akibat konflik Timur Tengah tidak hanya akan mendorong harga energi, tetapi juga berbagai barang lainnya,” ujarnya.

Koike menilai langkah pemerintah memang dapat meredam sebagian tekanan harga, tetapi tidak sepenuhnya, sehingga upah riil masyarakat berpotensi kembali negatif. Ia memperkirakan BOJ akan menaikkan suku bunga pada Juli mendatang.

Indeks inflasi yang mengabaikan harga pangan segar dan energi, indikator yang diawasi ketat BOJ untuk mengukur tren inflasi jangka panjang naik 1,6% pada Mei setelah meningkat 1,9% pada April.

BOJ sebelumnya mempertahankan suku bunga pada April, tetapi memberi sinyal kuat mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat akibat meningkatnya tekanan inflasi.

Baca Juga: RI Tidak Termasuk, Ini 15 Negara yang Paling Dipercaya Investor di 2026

Konflik Timur Tengah membuat keputusan BOJ menjadi lebih rumit karena kenaikan harga energi mendorong inflasi, tetapi sekaligus membebani ekonomi Jepang yang sangat bergantung pada impor minyak.

Meski ekonomi Jepang tumbuh lebih kuat dari perkiraan pada kuartal pertama berkat ekspor dan konsumsi yang solid, analis memperingatkan tekanan akibat lonjakan harga energi masih akan menjadi ujian besar bagi dunia usaha dan konsumen.

Data pemerintah juga menunjukkan produksi pabrik Jepang naik 0,8% pada April dibanding bulan sebelumnya, berlawanan dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan penurunan 0,9%.

Pengiriman nafta tercatat turun 16,2%, tetapi produksi mesin industri dan mesin listrik meningkat, termasuk lonjakan 44,3% pada peralatan inspeksi chip semikonduktor.

Survei pemerintah menunjukkan produsen memperkirakan output industri akan naik 5,1% pada Mei sebelum turun 0,4% pada Juni.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×