kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.049.000   4.000   0,13%
  • USD/IDR 16.943   24,00   0,14%
  • IDX 7.711   133,47   1,76%
  • KOMPAS100 1.077   18,47   1,75%
  • LQ45 788   15,37   1,99%
  • ISSI 273   5,07   1,89%
  • IDX30 419   8,93   2,18%
  • IDXHIDIV20 515   13,10   2,61%
  • IDX80 121   2,06   1,73%
  • IDXV30 139   2,88   2,11%
  • IDXQ30 135   3,02   2,28%

Insiden Laut China Selatan, Beijing Tuding Australia Lakukan Pelanggaran Udara


Rabu, 22 Oktober 2025 / 08:30 WIB
Insiden Laut China Selatan, Beijing Tuding Australia Lakukan Pelanggaran Udara
ILUSTRASI. Fregat berpeluru kendali Changzhou dan kapal perusak berpeluru kendali Jinan di bawah Komando Teater Timur PLA China, membentuk formasi di Laut China Timur selama latihan maritim pada 20 Januari 2021. Dok: eng.chinamil.com.cn/foto oleh Fang Sihang


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - BEIJING. Ketegangan antara China dan Australia kembali meningkat setelah Beijing menuduh Canberra berusaha menutupi pelanggaran wilayah udara di atas Laut China Selatan.

Tuduhan ini muncul menyusul insiden yang melibatkan pesawat militer kedua negara di sekitar Kepulauan Paracel.

Baca Juga: Bursa Asia Cenderung Melemah di Pagi Ini (22/10), Indeks Nikkei 225 Anjlok 1,3%

Kementerian Pertahanan China pada Rabu (22/10/2025) menyatakan bahwa pernyataan Australia mengenai insiden tersebut merupakan upaya untuk “menutupi tindakan intrusi” pesawat militer Australia ke wilayah udara China.

Beijing mengonfirmasi telah menyampaikan nota protes resmi kepada pemerintah Australia terkait kejadian itu.

Insiden bermula ketika Australia menuduh pesawat tempur China menjatuhkan flare di dekat pesawat patroli maritim Australia yang tengah beroperasi di kawasan Laut China Selatan. Canberra menyebut tindakan tersebut “tidak aman dan tidak profesional”.

Namun, juru bicara Kementerian Pertahanan China menegaskan bahwa pasukan militernya bertindak sesuai hukum internasional dan menuduh Australia justru melakukan pelanggaran dan provokasi di wilayah yang diklaim Beijing.

“Kami mendesak Australia untuk segera menghentikan pelanggaran, provokasi, dan propaganda, serta menahan diri dari tindakan berisiko oleh pasukan laut dan udara di garis depan,” ujar juru bicara kementerian dalam pernyataannya.

Baca Juga: Ekspor Jepang Akhirnya Naik, Didorong Permintaan dari China

Insiden ini kembali menyoroti ketegangan di Laut China Selatan, kawasan strategis yang menjadi sengketa antara beberapa negara termasuk China, Vietnam, Filipina, dan Malaysia.

Australia kerap melakukan patroli di wilayah tersebut dengan alasan kebebasan navigasi, sementara China menilai operasi semacam itu sebagai bentuk intervensi dan ancaman terhadap kedaulatannya.


Tag


TERBARU
Kontan Academy
AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026 Mastering Strategic Management for Sustainability

[X]
×